Kamis, 19 Januari 2012

Refleksi Gandhi

Tidak ada kesia-siaan yang menguras tubuh kecuali kekhawatiran, dan orang yang punya keyakinan pada Tuhan seharusnya merasa malu kalau masih mengkhawatirkan sesuatu.-M. Gandhi.

Kutipan di atas adalah sebuah suntingan yang diambil dari perkataan seorang filsiuf dan tokoh perdamaian serta perjuangan India, Mahatma Gandhi. Setelah beberapa kali membaca kutipan tersebut dan membaca biografi sang "Bapa" saya justru memuliki pandangan yang agak berbeda. Gandhi (mungkin) ingin mengingatkan kita pada keoptimisan menjalani hidup. tentang segala sesuatunya yang tidak usah terlalu dikhawatirkan. tentang kegairahan hidup. tentang harapan yang cerah di depan langkah kita. Sayangnya Gandhi (mungkin saja) terlupa, (atau memang sengaja menyembunyikan untuk memperkuat jiwa orang lain) bahwa sesungguhnya hidup adalah sekumpulan kekhawatiran yang terus saja menumpuk. kekhawatiran akan hari depan, kekhawatiran pada apa yang sedang dijalani, dan kekhawatiran pada sesuatu yang tertimbun di masa lalu. Saya merasa Gandhi tidak ingin menyampaikan bahwa hilangkan segala kekhawatiran kita. ia ingin berbicara bahwa jangan pernah "memasukkan ke dalam tubuh" segala macam kekhawatiran.
Bagi saya, kekhawatiran adalah batu-batu yang dijatuhkan Tuhan dari langit. manusia tinggal memilih, apakah akan membiarkan dirinya tergencet, menghindar dan lari darinya, atau membiarkannya berserakan disekitar, lalu mengumpulkannya sebagai pijakan untuk menggapai sesuatu ditempat tinggi. Kekhawatiran adalah batu loncatan kedewasaan dan keberhasilan seseorang. Jangan pernah kita hawatir pada kekhawatiran yang ada dalam diri kita. keluarkanlah, biarkan menjadi pemacu dan jangan pernah membiarkannya beranak-pinak dalam diri kita dan menjelma kesia-siaan yang menguras tubuh.

Salam

Minggu, 01 Januari 2012

sastra dan sejarah

Sastra adalah sebuah tulisan fiksi yang notabenya sebuah rekaan. Sedangkan sejarah pada hakikatnya adalah sebuah rekam jejak fakta yang ada. Pada keadaan ideal, sebuah fakta sejarah akan selalu berupa kenyataan dan sebuah fakta dalam karya sastra adalah sebuah fakta rekaan.
Sayangnya sering kali sejarah adalah milik para penguasa, para pemenang, para pemilik hegemoni jamannya. Sejarah selalu saja menuliskan peristiwa dengan tendensi mengagungkan penguasa pada zamannya, atau menghujat secara membabi buta. Sangat sulit untuk menemukan sebuah fakta sejarah yang tak tendensius. Salah satu contoh adalah era kelam bangsa indonesia pada medio 65 hingga 70. Saat itu dan pada tahun-tahun berikutnya saat Sang Jendral menjadi penguasa, penghujatan pada anak jadah demokrasi terpimpin, Partai Komunis Indonesia menjadi-jadi. Hampir seluruh buku sejarah mencatat bahwa pada tanggal 30 September PKI membunuh para jendral untuk mengambil alih kekuasaan, lalu muncul Sang Jendral sebagai pahlawan kesiangan yang mengatasi keadaan.
Kejadian 30 September sebenarnya jauh lebih mengerikan dari sekedar pembunuhan para jendral. Sang pahlawan kesiangan membabi buta membabat orang-orang PKI dan tetuduh PKI. pembunuhan merajalela. Data paling konservatif menyebutkan 2 juta rakyat indonesia menjadi korban ''pembersihan'' tersebut. dan sejarah selalu saja hanya menuliskan, Sang Jendra menjaga ketertiban.
Sastra, mampu menjabarkan era itu dengan caranya sendiri. Beberapa karya mengangkat kejadian-kejadian diseputar kudeta konstitusional tersebut. Putu Fajar Arcana dengan lihai dapat menceritakan kepala-kepala yang bferserakan di Bali pada masa itu. Marten Aleida mampu memaparkan kepedihan menjadi tertuduh PKI, bahkan di dalam Ronggeng Dukuh Paruk, digambarkan dengan jelas bagaimana penderitaan seorang lengger yang hanya menari demi melestarikan nama baik desanya yang disebabkan dituduh PKI.
Sastra selalu saja bisa memberikan sebuah refleksi zaman dan para pelakunya. Walau terkadang terkesan fiksi dan subjektif, sastra seringkali lebih mampu menampilkan wajah suatu era jauh lebih objektif dan gamblang dari buku-buku sejarah. Bahkan ada sebuah petikan : jika kau ingin kebohongan, bacalah sejarah, jika kau ingin kebenaran, bacalah sastra.

Salam