Rabu, 26 Desember 2012

Mencari


Aku mencarimu dilembar-lembar kalender yang hampir habis
Aku memelototi setiap saluran televisi yang menyiarkan kaledioskop.
Berharap
Kau terselip di sela-sela berita tikus-tikus yang menggerayangi meja.
Meja kantor, meja bank, meja besi, bahkan meja hijau dan meja-meja yang belum dipelitur

Beberapa kali aku juga menengok ke kebun di belakang rumah
Takut kau digondol dan dibawa kesana
Oleh kucing-kucing yang makin aneh di bangsa ini.
Kucing disini sudah bisa salto, geol kanan kiri, kayang,
bahkan mungkin rol depan dan rol belakang.
Ya, begitulah sepertinya jika yang bisa dijual hanya selangkangan.

Oh iya, aku hampir saja lupa .
aku tidak mencarimu untuk menemukan selangkanganmu.
Juga buah dadamu yang kata para tetangga tak sebesar dada-dada yang mereka tonton di televisi.
Ah, kau tahu lah, bangsa kita selalu saja dicolok matanya dengan dada dan paha.
Dada paha dada paha dada paha, begitulah.

Aku mencarimu, bukan untuk mengatakan aku mencintaimu.
Aku hanya mencarimu, karena dua sajadah sudah terbentang
Dan hafalan ayat suciku sepertinya sudah cukup untuk menjadi imammu.

Minggu, 23 Desember 2012

Sebuah Hadiah Ulang Tahun


Selasar depan rumah masih sangat sepi. Ada cahaya remang dari lampu kecil yang berpendaran malu-malu di tengahnya. Kursi usang terpaku seperti menanti seseorang bersandar di sana. Ingin rasanya menemani kursi usang itu terpaku di ujung sana. Menemaninya , berbagi kesendirian, berbagi kesunyian, dan mungkin berbagi cerita tentang kerinduan dengannya. Tapi tak ada satupun langkah yang kuambil. Aku tetap di sini, di ujung lain selasar rumah. Bersandar pada dinding yang terasa lembab dan dingin. Sendiri. Tanpa seorang kawanpun, bahkan tanpa secangkir teh panas yang biasa kau buatkan untukku, dulu.  Aih, mengapa aku semelankolis ini. Lelaki kecil yang rapuh. Ah, sudahlah , memang mungkin harus sudah saatnya aku berdamai dengan  diriku, mungkin memang sudah harus kuakui, aku merindukanmu.
Aku bukan sedang mengenangmu. Aku hanya sedang membayangkan apakah hadiah ulang tahun yang kukirimkan 3 hari yang lalu sudah sampai padamu. Ingin sebenarnnya aku menanyakan padamu lewat pesan singkat dari ponselku. Tapi tak kulakukan, aku tak mau kau tahu bahwa aku merindukanmu. Ah, kurasa bukan rindu, atau setidaknya itulah yang tak mau kuakui. Aku belum mau berdamai dengan diriku. Saat hari ulang tahunmu dalam pesan pendekku kutuliskan, “Selamat hari lahir, semoga menjadi pengingat akan batas lain dari kehidupan”. Dan balasanmu, “Terimakasih Mas, lama ya tak ada kabar, bagaimana kabar, baik?” . “Baik, maaf tidak bisa memberikan apa-apa.” Ya, itulah balasanku padamu, Aku tak mau kau tahu, diam-diam aku merindukanmu, mengirim hadiah ulang tahun untukmu. Bukannya apa-apa, aku hanya tak ingin kau tahu bahwa aku mengirim hadiah padamu, aku tak mau kau tahu masih ada sedikit kerinduan untukmu, ah benarkah aku merindukanmu? Ah, mungkin tidak.
Mungkin hadiahku sudah sampai padamu, atau setidaknya sampai di kotamu pada hari ulang tahunmu, atau setidaknya sudah sampai kemarin. Bahkan jika angin tak terlalu cepat membawanya selambat-lambatnya hadiah ulang tahunmu akan sampai padamu hari ini. Hadiah ulang tahunmu memang kutitipkan pada angin. Sebuah cara yang sudah tidak terlalu banyak orang menggunakannya. Bukan apa-apa, aku hanya malas mengirimkan melalui jasa antar barang yang pasti akan meminta identitas dan alamatku, bukan apa-apa, aku hanya tak ingin kau tahu bahwa aku mengirimkan hadiah ulang tahun padamu. Aku juga tak mau menitipkannya pada seorang kurir. Aku takut ia akan membukanya sebelum hadiah itu sampai padamu. Kudengar pernah ada seorang sastrawan yang mengirimkan senja kepada kekasihnya, namun kurir yang mengirimkannya justru membuka amplopnya. Kabarnya terjadi sesuatu yang mengerikan, tapi ada juga kabar bahwa sang kurir menjadi lebih terkenal dari sang pengirim karena menjual kisah tentang amplop yang terbuka itu. Entahlah, aku tak terlalu tahu apa yang terjadi, lagipula tidak ada yang bisa membedakan antara omong kosong kabar burung, dan kenyataan sekarang ini. Aku hanya tak ingin orang lain tahu aku mengirimkan hadiah ulang tahun padamu. Apalagi sampai kekasihmu sekarang tahu, aku akan tak enak hati padamu.
 Gerimis kecil mulai kembali turun. Kuperhatikan pulir-pulir hujan satu persatu, mungkin saja itu adalah air matamu yang kau kirimkan untukkku. Ah, kenapa aku mengharapkan kau menangis karena hadiah ulang tahunmu? Maaf jika itu yang terjadi, tapi tak ada seorang pun tahu arti dari sebuah air mata. Ia bisa saja meleleh dari sebuah keharuan, atau pecah dari sebuah kesedihan, atau mungkin mengembun dari sebuah kebahagian, meretas dari ketakjuban, atau mungkin saja yang lain. Selalu saja ada seribu kemungkinan saat kita melihat sebuah air mata. Hanya saja ada sebuah kepastian, ada sebuah kenangan dalam satu pulir air mata. Gerimis reda, tak ada satupun pulir air matamu. Gerimis yang sangat sebentar, sebuah gerimis yang sederhana, tanpa aksesoris yang berlebihan, hanya sebuah gerimis kecil setelah hujan reda pada sebuah malam. Tak ada yang istimewa.
Angin bertiup perlahan, menerbangkan bau tanah basah, rumput yang masih enggan menggeliat, dan bau akar-akar yang melepas kerinduan. Aku teringat, dan baru tersadar, gerimis ini, atau setidaknya gerimis seperti ini adalah gerimis yang beberapa waktu lalu menemaniku membuat hadiah ulang tahunmu. Ya, hadiah itu kubuat sendiri enam hari sebelum hari ulang tahunmu. Aku sekarang mengingatnya, dini hari itu gerimis seperti ini datang,  aku teringat kau selalu mengatakan sangat suka gerimis, sebuah gerimis yang sederhana, tanpa aksesoris yang berlebihan, hanya sebuah gerimis kecil yang disusul angin yang perlahan bertiup meranumkan bau tanah basah, rumput yang masih enggan menggeliat, dan bau akar-akar yang melepas kerinduan. Kau sangat suka membauianya. Kau pasti akan memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, merentangkan kedua tanganmu seperti akan memeluk sesuatu, sedikit senyum menyungging di bibirmu. Beberapa saat kau tak akan melakukan apapun, hingga kemudian kau perlahan melepaskan nafas, sangat pelan, seakan tidak mau melepaskan udara dalam dadamu. Kau lalu akan tersenyum riang sambil berkata,” Aku suka bau tanah setelah gerimis”   sambil menoleh atau menatap kearahku. pernah suatu ketika aku bersembunya saat kau mulai menutup mata dan menghirup udara dalam-dalam. Kau kebingungan mencariku saat kau membuka mata dan tentu saja dengan senyum riangmu kau berkata, “Aku su..” kata-katamu terputus, aku sudah tak ada ditempatku sebelumnya. Senyummu hilang, kau tampak murung, awalnya kuharapkan kau akan jengkel dan mencubitku dengan manja saat aku mendekatimu. Tapi tidak, kau tak melakukan apa-apa. Kau diam, tak berkata apapun. Ada keceriaan yang lenyap dari wajahmu. Wajah yang tak pernah tampak sayu, mendadak layu.
Langit gelap. Aku masih berdiri di selasar rumah, menunggu matahari yang mungkin sebentar lagi muncul. Aku tak sedang mengenangmu, aku hanya memikirkan apakah hadiah ulang tahunmu dariku sudah sampai padamu? Sebuah hujan yang kusulam sendiri. Kusulam dengan benang yang terbuat dari bulu-bulu kerinduan, bukan dari bulu-bulu domba australia yang orang lain pakai untuk membuat syal, atau mungkin air liur ulat. Aku menyulamnya dengan sangat hati-hati. Aku tak ingin kau tak mengenali hujan yag sedang kusulam. Hujan yang cukup besar, dengan jalan-jalan perumahan, gang-gang yang jalannya tertutup paving blok, pohon-pohon. Kusulam dengan sangat teliti. Bahkan kugunakan benang yang agak usang untuk l-angitnya yang abu-abu, anginnya yang agak kencang, serta tetesnya yang besar-besar dan turun dengan lebat. Kusulam pula air yang sudah menggenang tinggi, selokan-selokan yang meluap, sedikit sampah di tengah jalanan yang berkubang air. Anjing-anjing yang kedinginan di teras-teras rumah. Sayangnya aku tak menemukan benang yang cocok untuk membuat sepeda motor yang dulu kita gunakan untuk berjalan-jalan menerobos hujan. Berkeliling kompleks tanpa helm, menikmati kecerian kanak-kanak yang seringkali terenggut kedewasaan. Ya, kukirimkan untukmu sebuah hujan untuk hadiah ulang tahunmu. Sudah sampaikah disana?
                                                            **
 Seorang perempuan  duduk di pojok kedai kopi yang sudah walau malam belum larut. Secangkir teh yang tinggal setengah nampak sudah dingin ada di mejanya. Ia menatap lalu lalang di jalanan melalui kaca. Ia tersenyum saat semuanya nampak bergegas saat hujan mulai turun. Ia memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, merentangkan kedua tanganmu seperti akan memeluk sesuatu, kemudian kedua tangannya mengatup. Masih memejamkan mata, ia mendekatkan tangannya pada bibir mungilnya. Setengah berbisik ia mengatakan sesuatu. Kemudia ia melihat  beberapa orang masuk. Berteduh dari hujan pertama di kota mereka sambil ditemani secangkir kopi. Musim hujan akan segera datang. Tak beberapa lama hujan mereda. Ternyata hanya sebuah gerimis yang sebentar. Perempuan itu tersenyum, lamat-lamat ia bergumam, “gerimis yang sederhana”. Ia membuka kedua tangannya, meniupkannya angin diatasnya, seakan-akan menitipkan sesuatu pada angin. Ia menatap ke langit di luar sana. Setetes pulir hujan mulai jatuh dari matanya.   

Yogyakarta, Desember 2012

Minggu, 16 Desember 2012

Sajak Cinta


Kau memintaku menulis sajak cinta sebagai bukti aku mencintaimu.
Berlagak sebagai penyair, aku menyanggupinya

Pagi
Kubongkar gudang kata-kata di kepalaku. Agak berdebu, kupilah-pilah kata yang sudah terlalu usang dan lapuk, dengan kata-kata yang belum terlalu termakan usia.
Kubongkar-bongkar tumpukan kata, kucari yang mungkin cocok kutuliskan untuk sajakku nanti.
Tidak cukup, kubuka kamus-kamus. Dari kamus cetak, kamus berformat PDF, hingga kamus online yang mengajarkan adik-adik kita kemudahan dan kemalasan.

Siang
Kuberjalan ke kebun kenangan di sebelah rumah
Dengan clurit di tangan kurapikan ilalang dan rumput teki yang membuat kebun terlihat semrawut.
Kupanjat beberapa pohon untuk mencari dan memilih kenangan yang sudah ranum, masih harum, dan merekah.
Bukan kenangan yang sudah busuk, ataupun kenangan yang belum matang.
Saat memilih mana yang akan kupetik, aku mencicipinya sedikit agar tak salah mengambil kenangan yang agak asam apalagi pahit.
Ya, kenangan yang paling manislah yang kupetik.

Malam
Kutunggu rahib, pendeta, dan ulama tertidur lelap.
Aku akan mencuri kitab suci mereka.
Mencabik-cabiknya untuk menemukan kisah cinta dan kasih sayang , sesuatu yang tidak pernah mereka pakai dalam khotbah-khotbah keagamaan di negeri ini.
Tentu saja Aku tidak lupa menyebut nama Tuhan saat mulai meretas benang penjilid dan kukuku mulai menancap di lembaran-lembaran awal setiap kitab yang kubuka.
Walau agak kesusahan akhirnya aku menemukan beberapa kisah yang kurasa akan cukup membuat sajakku menjadi sajak cinta yang tak biasa.maklumlah, mungkin cinta dan kasih sayang terlalu lama tertimbun, tertindih amarah dan kebencian yang sering mereka gunakan saat mengutipnya,

Dini Hari
Kata-kata sudah berserakan di atas piring saji, beberapa buah kenangan yang sudah kucuci bersih, bahkan dengan larutan yang membuatnya higienis sudah di dalam keranjang. Kisah-kisah dari beberapa kitab suci bahkan sudah kumasukkan dalam toples tak tembus pandang agar tak ada yang tahu mereka ada disana.
Tapi ternyata tidak mudah menjadi seorang penyair.
Tidak mudah menulis sebuah sajak cinta, apalagi untukmu sayang.
Setiap kata berlarian sesuai keinginannya. Ada yang menari di atas sendok, bermain petak umpet di kotak tisu, menjilati kaki mena, bahkan beberapa darinya asyik menggerogoti buah kenangan di dalam keranjang hingga beberapa buah berlubang di sana-sini. Dan kisah-kisah dalam kitab suci? Mereka mengunci dirinya karena ketakutan.
Takut pada segerombolan kata-kata yang mungkin akan menggigitinya, dan takun pada keriuahan yang ada di luar toples.

Ayam berkokok
Aku teringat Roro Jongrang dan Dayang Sumbi.
Sajakku belum jadi, bahkan satu katapun belum kutulis.
Sambil membayangkan wajah manjamu yang pasti akan merajuk aku teringat seorang penyair pernah berkata :
Karena cinta adalah kau yang tak mungkin kusebut kecuali dengan denyut.

Jogjakarta

Minggu, 04 November 2012

Agama, Sosial, dan Pola Pikir dalam sejarah Pemikiran Kritis

Agama, Sosial, dan pola berfikir adalah ketiga bidang yang banyak bersinggungan dengan pemikiran kritis. Ketiga hal tersebut menjadi kajian-kajian yang sering dibahas dan menjadi bahan utama pemikiran filsafat. Perkembangan pemikiran dan filsafat mutakhir (setidaknya seabad ini) mayoritas menyoal ketiga bidang ini.

Agama sebagai sebuah sistem dogma yang "Ilahiah" awalnya dipandang secara normatif oleh para pemeluknya. Agama dilaksanakan, ditunaikan dengan apa adanya, sesuai dengan aturan yang ada, hingga kadangkala esensi dari sebuah agama menjadi sangat kabur. Menyitir pendapat seorang kawan : Agama di Indonesia sekarang hanya mengajarkan formalitas, mejadi sebuah rutinitas yang sangat mekanis. Pandangan-pandangan normatif terhadap agama mengalami perkembangan yang berbeda-beda. Ajaran agama mulai dipandang secara kritis pada era Islam Andalusia berkembang di Semenanjung Iberia. secara historis pemikiran kritis dalam agama terjadi pada masa itu dan masa teologi pembebasan di Amerika Latin. Agama, memang seharusnya berada pada setiap segi kehidupan. namun bukan berarti agama, apapun itu adalah sebuah "Kurungan ayam" yang akan selalu cocok diletakkan dimanapun, dan untuk jenis "ayam" apapun. dalam sebuah masyarakat, kebudayaan, atau jika boleh menyebut peradaban, seharusnya ada asimilasi dan pelenturan-pelenturan yang ada. dalam proses tersebutlah, diperlukan pemikiran kritis namun tetap mengakar, sehingga dalam prakteknya ajaran aga menjadi sesuatu yang esensial, bukan sesuatu yang mengatur ritual secara seremonial belaka.

Pemikiran kritis dalam sejarah peradaban manusia menghasilkan paham-paham seperti komunisme, sosialisme, dan beberapa paham lainnya.  sedangkan kekritisan pemikiran tentang pola pikir manusia yang cukup terkenal adalah dekonstruksi yang dikenalkan oleh jaques Derrida.  

Jumat, 02 November 2012

Fenomenologi, Ethnometodologi, dan Praktik Interpretif


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ethnometodologi adalah salah satu jenis penelitian kualitatif yang mendasarkan pada filsafat fenomenologi. Jenis penelitian ini dikatagorikan bukan karena memiliki tata cara, tata metode, serangkaian ciri dan perilaku yang berbeda dengan jenis-jenis penelitian lainnya. Berdasarkan istilahnya : Ethnometodologi, mungkin akan ada pertanyaan tentang bagaimana bentuk penelitian, apa metode khususnya, bagaimana membedakan metodenya dengan metode lain? Namun akan sangat sulit menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyan seperti itu. Hal ini disebabkan istilah ethnometodologi bukanlah sebuah metode seperti studi kasus, survei, deskriptif, dsb. karena pengertian etnometodologi tidaklah mengacu pada suatu model atau teknik mengumpulkan, dan menganalisis data ketika seseorang melakukan suatu penelitian tetapi lebih memberikan arah mengenai masalah apa yang akan diteliti.
 Sebagaimana disebutkan sebelumnya, ethnometodologi berkembang dari prinsip-prinsip Filsafat fenomenologi. Filsafat fenomenologi adalah sebuah pandangan yang menganggap bahwa “realitas” adalah sebuah interaksi antara “objek-objek” dan individu dalam masyarakat yang menghasilkan yang Edmund Husserl sebagai “yang eksperensial”. Pemahaman akan suatu kejadian, peristiwa, serta permasalahan pada pandangan fenomenologi dilakukan secara interpretif, dimana kebenaran diserahkan pada persepsi, pemahaman, dan penganalisisan pelaku peristiwa.dalam ranah penelitian, pandangan ini mendasari proses penarikan kesahihan data yang interpretif, dimana kekredibelan data dikembalika pada subjek penelitian, bukan pada proses interpretasi peneliti.
Fenomenologi, ethnometodologi, dan praktik interpretif adalah tiga hal akan dibahas dalam makalah sederhana ini. Sumber acuan berupa buku K. Denzin & Yvonna S. Lincoln. Handbook of Qualitative  Researcch. London-New Delhi: Sage Publications, 1994. Part III. Memuat sekelumit persoalan dan pembahasan tentang ketiga hal tersebut. Namun dalam penyusunan tulisan ini, dikembangkan sistematika sederhana yang berbeda dengan buku acuan agar lebih mempermudah pengembangan dan pembahasan tentang Fenomenologi, ethnometodologi, dan praktik interpretif.

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah ini disusun agar pembahasan tentang fenomenologi, ethnometodologi, dan praktik interpretif dapat dilakukan dengan lebih terarah. Hal ini dikarenakan sumber-sumber pendukung penulisan makalah ini memberikan informasi yang lebih signifikan daripada sumber utama, seperti yang sudah disampaikan di latar belakang. Berikut ini adalah rumusan masalah makalah ini :
1.      Apakah filsafat fenomenologi ?
2.      Apakah penelitian ethnometodologi?
3.      Bagaimanakah praktik interpretif dilakukan pada sebuah penelitian ethnometodologi?
4.      Bagaimanakah sejarah perkembangan fenomenologi dan ethnometodologi?

C.     
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Fenomenologi
Fenomenologi adalah salah satu cabang filsafat yang memfokuskan kajian (ontologi) pada fenomena-fenomena yang para penganut aliran ini sebut dengan esensi. Konsep kebenaran bagi mereka bukanlah sesuatu yang dapat ditangkap dengan indra. Kebenaran adalah sesuatu yang diperoleh dari proses interaksi apa yang tertangkap indra dengan penangkap indra. Manusia, sebagai individu berpengaruh sangat besar pada proses penarikan kebenaran dan pembentukan esensi pada filsafat fenomenologi. Kebenaran, esensi, terdapat pada suatu objek yang para penganut fenomenologi sebut fenomena. Mustofa (2000) menyatakan bahwa Fenomena yang tampak adalah refleksi dari realitas yang tidak berdiri sendiri karena ia memiliki makna yang memerlukan penafsiran lebih lanjut.
Perkembangan fenemonologi dimulai saat Edmund Husserl mengemukakan kelemahan-kelemahan posivitisme Agust Comte. Husserl menolak penggunaan pola berfikir objektif diterapkan dalam penelitian sosial. Bagi Husserl subjektifitas adalah prinsip yang tidak boleh dilepaskan dari penelitian sosial. Hal ini berlandaskan pada konsep keterkaitan antara fenomena dan pelakunya (dalam hal ini masyarakat). Edmund Husserl meletakkan empat (4) prinsip dasar pada fenomenologi, yaitu intensionalitas, intersubjektivitas, intuisi atau refleksi, dan logika transedental. Pengembangan fenomenologi kemudian diteruskan oleh Alferd Schutz yang mengenalkan konsep natural attitude. Prinsip ini menekankan pada setting penelitian yang harusnya alamiah, bukan ilmiah, tanpa perilaku dan tidakan yang dirancang atau diberikan oleh orang lain (peneliti).
Peter L. Berger mengembangkan fenomenologi dengan penerapannya pada masyarakat sebagai salah satu objek kajian penelitian sosial. Masyarakat memiliki ide, budaya, dan nilai yang mengatur pola kehidupan mereka. Ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan dengan individu sebagai anggota masyarakat.  Jika hal tersebut dianalisis dengan pendekatan positivis, maka nilai-nilai itu harus dipisahkan, (tidak berinteraksi dengan pemakainya- masyarakat) karena menurut paham positivisme, suatu sistem nilai harus objektif, dan interaksi dengan pemakai dianggap sebagai sebuah proses subjektivisasi. Berger  menyatakan bahwa ide, nilai, budaya, norma dilihat sebagai pusat organisasi yang mensosialisasikan maknanya pada masing-masing anggotanya. Dalam proses tersebut terdapat tiga jenis tindakan yang dilakukan masyarakat :
1.        Internalisasi. Masyarakat mempengaruhi individu di dalamnya
2.        Eksternalisasi. Individu mempengaruhi masyarakat krn ia bagiandarnya
3.        Obyektivasi. Individu memaknakan kembali nilai dalam kelompoknya (masyarakat).
Fenomenologi yang di berusaha memahami budaya lewat pandangan pemilik budaya atau pelakunya. Suwardi (2008) menyataka menurut paham fenomenologi, ilmu bukanlah values free, bebas nilai dari apapun, melainkan values bound, memiliki hubungan dengan nilai. Aksioma dasar fenomenologi adalah:(a) kenyataan ada dalam diri manusia baik sebagai indiividu maupun kelompok selalubersifat majemuk atau ganda yang tersusun secara kompleks, dengan demikian hanya bisaditeliti secara holistik dan tidak terlepas-lepas; (b) hubungan antara peneliti dan subyekinkuiri saling mempengaruhi, keduanya sulit dipisahkan; (c) lebih ke arah pada kasus-kasus,bukan untuk menggeneralisasi hasil penelitian; (d) sulit membedakan sebab dan akibat,karena situasi berlangsung secara simultan; (e) inkuiri terikat nilai, bukan values free
Penelitian Fenomenologis menitikberatkan pada pemahaman subjek, pelaku dalam masyarakat yang mengalami sendiri fenomena-fenomena tersebut. Pengintegrasian individu, konsep, aksi, reaksi, persepsi dll. Itulah yang kemudian dalam bidang penelitian memunculkan sebuah jenis penelitian yang disebut ethnometodologi. Sebuah jenis penelitian yang secara harfiah berasal dari tiga kata : ethno = manusia , methodos = cara,  logos = ilmu.

B.     Ethnometodologi
Telah disampaikan pada bab sebelumnya bahwa ethnometodologi bukanlah sebuah metode khusus tentang bagaimana melakukan sebuah penelitian. Ethnometodologi adalah studi tentang bagaimana individu menciptakan dan memahami kehidupannya. Palolli (2010) meyatakan bahwa etnometodologi mempunyai pengertian sekumpulan pengetahuan berdasarkan akal sehat dan rangkaian prosedur serta pertimbangan (metode) yang mana masyarakat biasa dapat memahami, mencari tahu, dan bertindak berdasarkan situasi dimana meraka menemukan jati diri. Penelitian etnometodologi berupaya untuk memahami bagaimana masyarakat memandang, menjelaskan dan menggambarkan kata hidup mereka sendiri. Penelitian Ethnometodologi memiliki dasar pola pikir fenomenologis, seperti sudah disampaikan sebelumnya. Penelitian jenis ini banyak mengungkapkan interaksi individu dalam masyarakatnya, susunan masyarakat yang khas, persoalan-persoalan dalam masyarakat, bahkan sebuah gambaran yang utuh dari masyarakat yang menjadi subjek penelitian tersebut.
Ethnometodologi berkembang pada masa keemasan penelitian kualitatif pada dekade 70-an. Menurut Garfinkel, tokoh pencetus ide mengenai Etnometodologi, istilah ini muncul setelah ia membaca arsip studi lintas budaya di Universitas Yale yang memuat istilah-istilah seperti Ethnobotany, etnhophysics dan ethnoastronomy. Ketiga istilah di atas mengenai masyarakat yang masih hidup terpencil telah mengenal kehidupannya dengan baik, mereka memiliki pengetahuan dan cara-cara menyelesaikan masalah dalam hidup mereka. Memang dalam perkembangannya penelitian jenis ini banyak mendapat stigma negatif. Hal tersebut dikarenakan para peneliti pada awal perkembangan penelitian sosial meneliti masyarakat yang mereka anggap “unik” di daerah-daerah koloni atau jajahan untuk kepentingan-kepentingan, atau setidaknya secara tidak langsung digunakan untuk kepentingan bangsa penjajah. Di Indonesia sendiri, ada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Snouck Horjounge di Aceh yang menyebabkan kekakalahan perang Aceh bagi pihak pribumi.
Etnometodologi menurut Garfinkel (melalui Alvin, 2011) adalah sebuah studi tentang bagaimana orang-orang sebagai pendukung dari tatanan yang lazim menggunakan sifat-sifat tatanan itu untuk agar bagi para warga dapat terjadi ciri-ciri terorganisasi yang kelihatan nyata. Para ahli etnometodologi berupaya bagaimana cara orang memandang, menjelaskan, dan memberikan tatanan di dunia tempat hidupnya. Etnometodologi telah berhasil mengajak peneliti menjadi peka terhadap isu, yaitu penelitian itu sendiri bukan upaya ilmiah yang khas, tetapi lebih dilihat sebagai suatu pencapaian kerja yang praktis (Bogdan dan Biklen, via nn- web. 2012).
Metode etnometodologi memiliki warna kajian yang berbeda dibanding metode kualitatif yang lain. Bertolak dari tradisi fenomenologis, yaitu social phenomenology yang dikembangkan Schultz, etnometodologi kemudian mengembangkan diri melalui jalur analitik dari hukum-hukum dasar, kemudian mengalami pengayaan diberbagai konstruksi, yang meliputi analisis percakapan dan kaidah interpretif.
Subjek kajian etnometodologi bukanlah suku-suku terasing, tetapi orang-orang biasa yang kita temui sehari-hari. Etnometodologi meneliti hal-hal kecil dan sepele yang ‘hidup’ di masyarakat. Kaum peneliti etnometodologi bahkan percaya bahwa penelitian itu sendiri tidak harus berarti kegiatan ilmiah yang sangat unik, tetapi bisa juga dilakukan untuk hal-hal praktis dan urusan sehari-hari. Etnometodologi menekankan dan mengakui fakta bahwa masyarakat awam (lay public) mencoba mengakui penjelasan sosial seperti yang dilakukan oleh ilmuwan. Lebih lanjut akal sehat mencoba menjelaskan bahwa anggota masyarakat membuat dan menjalankan rasa sosial (kesetiakawanan sosial) secara terus menerus.
Penelitian ethnometodologi adalah suatu jenis penelitian kualitatif yang membahas tentang interaksi individu dalam masyarakat. Ada tiga hal harus diperhatikan dalam setiap penelitian ethnometodologi, individu, nilai dalam masyarakat dan struktur organisasi masyarakat. Penelitian ini menitikberatkan pada proses percakapan dalam pengumpulan data. Teknik yang disarankan adalah teknik rekam dan catat. Pemerolehan keterangan (data yang telah di-interpretif oleh subjek) dilakukan dengan analis percakapan. Terdapat lima prinsip dalam menganalisis percakapan menurut Zimmerman (1978), yakni:
1.        Pengumpulan dan analisis data yang sangat rinci tentang percakapan
2.        Aspek-aspek kecil percakapan tidak hanya diatur oleh ahli etnometodologi akan tetapi pada mulanya oleh aktor sendiri
3.         Interaksi dan percakapan bersifat stabil dan teratur. Peneliti bersifat otonom, terpisah dari ackor
4.        Kerangka percakapan fundamental adalah organisasi yang teratur
5.        Rangkaian interaksi percakapan dikelola atas dasar tempat atau bergiliran.

C.    Praktek Interpretif.
Praktek interpretif adalah sebuah pendekatan terhadap pemaknaan data dalam sebuah penelitian yang ada dalam penelitian yang berlandaskan pada filsafat fenomenologi. Interpretif menekankan pada pemahaman subjek terhadap realitas yang ada dalam masyarakat. Denzin dan Lincoln (199) berangkat dari asumsi bahwa dalam setiap interaksi sosial yang dilakukan peserta dalam sebuah struktur organisasi akan ada pemahaman sendiri yang didapat dalam setiap pengamatan percakapan. Pada kenyataannya, Denzin dan Lincoln menyampaikan bagian ini secara acak, menyebar dan terkesan ambigu. Keambiguitasan pembahasan praktek interpretif adalah cukup sering adanya istilah interpretasi dan interpretif yang muncul secara bersamaan. Entah hal tersebut dikarenakan penerjemah, maupun dalam proses sistematika buku tersebut secara umum. 
Proses pemaknaan fenomena yang dilakukan oleh subjek yang pada tahap selanjutnya direkam dalam sebuah penelitian melibatkan beberapa aspek yang ada pada lingkungan penutur, responden, atau apapun istilah yang digunakan untuk menyebutkan orang yang memberikan informasi pada kita tentang sebuah fenomena. Beberapa hal yang mempengaruhi hal tersebut antara lain penggunaan kosa kata, tendensi secara kelembagaan, tendensi profesional,  serta budaya yang terdapat pada setting penelitian itu sendiri. Aspek-aspek tersebut dinakaman sebagai sumber-sumber interpretif lokal oleh Denzin dan Lincoln.
Pemaknaan sebuah fenomena dalam penelitian-penelitian sosial , penelitian kualitatif, dan pada khususnya penelitian ethnometodologis yang menggunakan praktek interpretif sangat dipengaruhi oleh konteks sosial , wacana , dan linguis. Konteks sosial seperti adat, kebudayaan, kesantunan lokal, nilai-nilai agama mayoritas, dsb. Memberikan pengaruh yang cukup signifikan pada pemahaman subjek pada fenomena yang ada. Konteks wacana menjadi semacam pembatasan akan apa yang akan dibahas dalam proses percakapa yang menjadi tindakan perekaman data. Sedangkan aspek-aspek linguistik seperti semantik bahasa penutur, sistem penandaan makna, retorika, intonasi juga mempengaruhi pemahaman peneliti pada apa yang disampaikan oleh subjek.


BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Tiga hal yang menjadi pokok pembicaraan dalam tulisan ini : filsafat fenomenologi, penelitian ethnometodologi, dan praktek interpretif adalah tiga hal yang saling terkait. Filsafat Fenomenologi adalah dasar berfikir dari penelitian ethnometodologi. Pengembangan jenis penelitian tersebut juga selalu secara fundamental didasari pada pandagan fenomenologi, khususnya fenomenologi sosial yang dikembangkan Alferd Schutz. Penelitian ethnometodologis, dalam operasionalnya sangat mengandalkan teknik interpretif yang mendasarkan pemaknaan sebuah data pada persepsi dan proses interaksi subjek dengan fenomena yang diteliti.
Filsafat fenomenologi adalah sebuah cara pikir yang menitikberatkan pada fenomena yang terjadi dan interaksi antara manusia dan lingkungannya. Filsafat ini menolak objektifitasan positivis yang memisahkan pelaku dengan nilai, kejadian, konsep, dsb. Penelitian ethnometodologi adalah sebuah penelitian yang memfokuskan kajiannya pada interaksi manusia dalam masyarakat. Baik terhadap nilai, kejadian, kasus, struktur, dsb. Penelitian jenis ini menggunakan praktik interpretif saat memahami data berupa percapakan yang didapatkan melalui wawancara maupun observasi. Teknik interpretif adalah proses pemahaman data yang didasarkan pada persepsi dan pemahaman subjek penelitian.

B.     Saran
Pembacaan pada Phenomenology, Ethnomethodology,  and Interpretive Practice (James A.  Holstein and Jaber F. Gubrium) memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Terdapat beberapa hal yang terkesan “kabur” dan sistematika penyusunan yang agak “menyebar”.Namun hal tersebut dapat diatasi dengan pencarian literatur baik dalam Bahasa Inggris, maupun Bahasa Indonesia dalam bentuk buku, jurnal, slide, bahkan materi blogging. Disarankan kepada perumus-perumus literasi berikutnya agar terlebih dulu membuat sistematika sendiri agar pembahasan tentang materiyang akan dibahas akan lebih fokus.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Buku
Bungin, Burhan. 2010. Penelitian Kualitatif. Jakarta :Prenadia
Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln, 2000, edisi kedua, Handbook of Qualitative Research, diterjemahkan oleh : Dariyatno, dkk,  Pustaka  Pelajar, Yogyakarta.

Artikel dan jurnal
Anonim. - - . Phenomenology And Ethnomethodology

Douglas W. Maynard and Steven E. Clayman . 2003. Ethnomethodology and Conversation Analysis. Jurnal Annual Reviews

Douglas W. Maynard and Steven E. Clayman .1998. The Diversity of Ethnomethodology . Jurnal Annual Reviews

Hamid, Farid Umarela. - - . Ethnometodologi : Suatu Penelitian Kualitatif. Universitas Pelita Harapan.

Paul Atkinson. 1988. Ethnomethodology: A Critical Review. Department of Sociology, University College, Cardiff, Cardiff CFI 1XL, United Kingdom. Jurnal Annual Reviews

Web
Suwardi. -- . Fenomenologi (Jurnal Scribid) (unpublish).

nn.--. Etnometodologi, www.wacana2000@blogspot.com ,diunduh tanggal 27 Oktober 2012

Palaloi, Hamzah. 2010. Riset Etnometodologi. (catatan blogging : link blog crash)

Alfin, Ahmad. 2011. Metode Penelitian Ethnometodologi. www.alfinsosiologi.blogspot.com diunduh tanggal 27 Oktober 2012.

Mustofa, Chabib. --. Kualitatif Fakultas Dakwah . ppt (slide pembelajaran mata kuliah metode penelitian)






Kamis, 20 September 2012

Menari

Menari-nari kita terus menari meski hujan rintik turun

Sepenggal lirik dari sebuah lagu dali Maliq & d'Essensials tadi seakan membuat kita terseret pada imaji visual yang manis, ya, manis, sangat manis. Siapakah yang masa kecilnya tidak dilewatkan pada ritual menari, loncat kesana kemari, tertawa riang, disela kegetiran hidup yang belum ia pahami, sosok kita di masa kanak akan terus menari, menari dengan riang.

Menari, dengan atau tanpa alunan yang terdengar sebenarnya adalah pergerakan tubuh kita yang mengalun, entah cepat, lambat, riang, khidmat, dsb. Mengalun mengikuti alunan jiwa kita, feel , kata orang-orang barat, mengikuti suara yang tak terdengar, suara hati, suara alam, suara tuhan. Kadangkala kita terlalu naiif untuk mengikutinya, mengikuti nyanyian jiwa, menarikan tarian-tarian kita. Jarang seseorang menyadari setiap gerakan yang kita buat hakikatnya adalah tarian yang Tuhan ajarkan pada kita saat kita belum mewujud manusia. Kita mengepal-kepalkan tangan saat membara, kita memukul-mukul saat amarah memuncak, sambil berteriak kita meremas kepala kita saat tertekan, dan sambil tersedu kita menunduk lemas saat kita tak tahu lagi apa yang seharusnya kita lakukan. Semua itu adalah sebuah tarian, sebuah gerakan yang mengalun, diiringi lagu yang hati kita sedang lakukan.

Entah, Namun semakin bertambahnya usia, manusia cenderung semakin bebal mendengarkan lagu yang hatinya nyanyikan. Mungkin dunia mengajarinya bagaimana menolak kehendak tubuhnya, orang lain menyebut itu sebagai pengendalian diri, saya menyebut sebagai ketidak jujuran pada diri sendiri. Ingatkah saat kita kanak, bagaimana jujurnya kita, betapa riangnya kita menarikan seluruh lagu yang terdengar, betapa jujurnya kita ? betapa indahnya tarian kita. Dan yang paling indah : Betapa riangnya kita.

Bukan mengajak kembali pada romantika kanak yang sudah terlalu usang. Sekedar mengatakan, bahwa menari, terus menari, adalah bentuk kejujuran yang paling mendasar pada diri kita. Ingatkah tawa kita saat kanak, berlompatan, berlari-larian , berkejar-kejaran di saat hujan? Menarilah, tawa itu masih bisa kita punya.


Menari-nari kita terus menari meski hujan rintik turun



Minggu, 29 Juli 2012

Sejarah Juli dan Agustus

        Dalam pemahaman umum, jumlah bulan dalam 1 tahu adalah 12. tentu saja anda hafal nama bulan dari Januari hingga Desember. tapi sempat terpikirkankah bahwa pada awal penemuannya jumlah bulan pada penanggalan Masehi adalah 10?
         Pada awal penyusunan tahun masehi, hanya terdapat 10 bulan. bulan Juli dan Agustus ditambahkan setelah beberapa dasawarsa setelahnya. Bulan Juli ditambahkan oleh bangsa Romawi setelah para ahli Astronomi dan horiskop mereka menemukan bahwa pada masa 1 tahun posisi bumi belum sama persis pada posisi hari yang sama tahun sebelumnya. mereka berunding dan menyepakati ditambahkan 1 Bulan yang berjumlah 31 hari. Nama bulan itu diambil dari nama depan kaisar yang saat itu tengah memimpin Romawi : Julius Cesar. jadilah sebuah Bulan yang diletakkan di tengah-tengah : Juli. 
         Setelah bertahun-tahun diadakan pemeriksaan keadaan langit dengan mata telanjang para ahli perbintangan menyadari bahwa jumlah hari dalam setahun masih kurang. mereka kemudian mengajukan penambahan bulan pada kaisar Romawi saat itu : Caesar Agustus (Cucu Julius Cesar). Maka ditambahkan satu bulan lagi dalam sistem penanggalan masehi : Agustus, bulan yang selalu memiliki jumlah hari yang sama dengan Juli.
         Penelitian dan pengamatan benda langit untuk kepentingan penanggalan tidak berhenti pada momen tersebut. Pengamatan terus dilakukan hingga ditemukan adanya kekurangan 1/4 hari yang kemudian ditambahkan satu hari setiap 4 tahun yang kemudian sering disebut dengan tahun kabisat.

Kamis, 08 Maret 2012

Keusangan Teori Pertentangan Kelas

Karl Max, Mungkin nama pemikir sosial yang satu ini sudah sangat familiar di kalangan generasi Muda (Dan yang merasa Muda). Max sering dituding menjadi "Dewa" Kaum Komunis, bapak komunis, hingga pencetus Komunisme. Penulis yang menghabiskan Usia Senjanya di London bersama seorang sahabat bernama F. Eagles ini menelurkan beberapa pemikiran dalam beberapa bukunya. dua contoh yang "melegenda adalah Das Kapital dan Comunist Manifest. Salah satu pemikirannya yang paling terkenal adalah Teori pertentangan kelas.
Teori Pertentangan kelas secara sederhana dapat diartikan sebagai teori yang menginginkan suatu keadaan masyarakat yang tak tersdapat lapisan=lapisan, golongan, dsb. Teori ini dicetuskan Max setelah melihat kenyataan keadaan masyarakat eropa yang bipolar. Masyarakat Eropa pada saat Max hidup dipisahkan menjadi para kapital (pemilik modal) dan buruh, penguasa dengan proletar, kaya dan miskin, serta penggolongan-penggolongan yang didasarkan pada materi. (Bagi Max Agama termasuk materi). Max menginginkan semua kelas dalam masyarakat hilang dan masyarakat melebur menjadi satu, masyarakat tanpa kelas, konsep tersebutlah yang max katakan sebagai masyarakat komunis.
Teori ini pada awalnya dianggap sebagai angin lalu saja. kemudian teori ini dikembangkan di USSR dan menjadikan USSR menjadi salah satu kekuatan komunis di Dunia. Sayangnya pada perkembangannnya, aplikasi Teori ini Justru menciptakan Chaos dan ketidakberaturan kehidupan berbangsa di USSR. Hingga pada awal dekade 90-an Glasnot dan Preriostika menjdadi tandanya USSR dan kekuatan komunis. dan semenjak masa itu, komunisme dianggap sebagai sebuah Utopia masyarakat ideal dan dikalahkan oleh paham Kapitalis.
Keruntuhan komuisme juga banyak diartikan sebagai "kegagalan" pertentangan kelas. para cendikia menganggap bahwa kelas-kelas sosial dan penggolongan yang ada pada masyarakat memang diperlukan untuk menjaga stabilitas dan mobilitas struktur masyarakat. di era kapitalisme seperti sekarang, manusia sangat mudah untuk dimasukkan dan digolongkan pada "kotak-kotak" eksklusitifan sistem sosial. contohnya munculnya fenomena, sosialita, bangsawan, artis, :anak gaul" dan sebagainya. Masyarakat (Indonesia) juga merupakan salah satu "korban" era kapitalisme ini. masyarakat kita sangan mudah (dan cenderung dengan senang hati dan kesadaran penuh) memasukkan diri pada kotak-kotak yang akan mengumpulkan mereka dengan orang yang serupa (memiliki kesamaan hobi, kepemilikan aset, bidang usaha, bahkan perangkat telekomunikasi) yang secara langsung atau tidak membatasi (bahkan menutup) interaksi mereka dengan anggota masyarakat lain yang ada di luar "kotak" tersebut. Hal tersebut menjadi sangat memprihatinkan jika "kotak" tersebut merupakan "kotak" yang dianggap prestisius bagi anggota masyarakat lainnya. dan hal ini dirasa memberikan "sumbangan" signifikan dalam kebobrokan bangsa kita secara keseluruhan.
Teori pertentangfan kelas bolehlah dianggap sebagai sebuah teori usang, sebuah teori yang gagal membangaon Civil Society namun apa yang terjadi di masyarakat modern saat ini dirasa cukup untuk membuka mata para cendikia bahwa kelas sosial dalam suatu masyakat hanya akan mengantarkan masyarakat tersebut pada bibir jurang kehancuran. Untuk memperbaikinya, ada baiknya dilakukan pembacaan ulang pada paham-paham yang dianggap tabu di negri tercinta ini.

Salam

Selasa, 07 Februari 2012

Tujuan Hidup

Tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tahu (Soe Hok Gie)
Manusia adalah masterpiece Tuhan. ciptaan Tuhan yang paling sempurna, memiliki banyak sisi, memiliki ketakterbatasan yang bernama keterbatasan. Mahluk yang mampu menjadi apapun selama ia mampu. Mahluk yang mampu menggenggam, alam raya, surga dan neraka, bahkan memiliki sedikit dari kuasanya. Sebagai mahluk yang sempurna, manusia memiliki "kewenangan menjalani hidupnya sendiri. Manusia "diasuh" Tuhan dalam menjalani sandiwara terbesar yang bertajuk : Kehidupan.
Manusia memiliki kemampuan untuk mengarahkan hidupnya. di dapat memilih mau seperti apa lakon yang di mainkannya. dia akan dengan sangat lihai akan memainkan "gimic-gimic" pada setiap adegan yang di mainkannya. Manusia memiliki kewenangan akan hidupnya sendiri. Sayangnya sering kali manusia "keblinger dengan "Ruang Improvisasi yang Tuhan Berikan padanya. Sering merasa berkuasa akan hidupnya.Sering merasa apa yang diinginkannya, dijalaninya, dihasilkannya adalah kekuatan, kekuasaan, dan kemampuannya. Manusia-manusia seperti inilah yang lupa akan sutradara kehidupannya : Tuhan.
Pengalpaan terhadap Tuhan bisa dilihat dari beberapa tataran. Yang paling parah tentu saja pada ketidakpengakuan manusia pada eksistensi Tuhan. Pada taraf yang lebih kecil, manusia sering meniadakan peran tuhan pada kehidupannya (seperti dicontohkan sebelumnya). Pada taraf yang terkecil (dan sering tidak disadari) adalah merasa telah mengetahui apa yang akan dia raih.
Ada juga manusia-manusia yang sudah merasa dirinya tahu apa tujuan hidupnya. Pemikiran tersebut menandakan (walau samar) pribadi tersebut "ndingini kerso". mendahului apa yang digariskan tuhan. Orang tersebut (merasa) tahu tujuan hidupnya. dengan bangga biasa melabeli dirinya dengan label-label kehidupan seperti, Sukses, pengusaha, hartawan, dan sebagainya. Tidak ada salahnya mengetahui apa yang ingin dirainya. Namun pengklaiman hal tersebut sebagai tujuan hidup adalah sesuatu yang seharusnya bisa kita singkirkan. Karena seperti pernah ditulis Soe Hok Gie : Tujuan Hidup yang Tak Seorang pun Tahu.

Kamis, 19 Januari 2012

Refleksi Gandhi

Tidak ada kesia-siaan yang menguras tubuh kecuali kekhawatiran, dan orang yang punya keyakinan pada Tuhan seharusnya merasa malu kalau masih mengkhawatirkan sesuatu.-M. Gandhi.

Kutipan di atas adalah sebuah suntingan yang diambil dari perkataan seorang filsiuf dan tokoh perdamaian serta perjuangan India, Mahatma Gandhi. Setelah beberapa kali membaca kutipan tersebut dan membaca biografi sang "Bapa" saya justru memuliki pandangan yang agak berbeda. Gandhi (mungkin) ingin mengingatkan kita pada keoptimisan menjalani hidup. tentang segala sesuatunya yang tidak usah terlalu dikhawatirkan. tentang kegairahan hidup. tentang harapan yang cerah di depan langkah kita. Sayangnya Gandhi (mungkin saja) terlupa, (atau memang sengaja menyembunyikan untuk memperkuat jiwa orang lain) bahwa sesungguhnya hidup adalah sekumpulan kekhawatiran yang terus saja menumpuk. kekhawatiran akan hari depan, kekhawatiran pada apa yang sedang dijalani, dan kekhawatiran pada sesuatu yang tertimbun di masa lalu. Saya merasa Gandhi tidak ingin menyampaikan bahwa hilangkan segala kekhawatiran kita. ia ingin berbicara bahwa jangan pernah "memasukkan ke dalam tubuh" segala macam kekhawatiran.
Bagi saya, kekhawatiran adalah batu-batu yang dijatuhkan Tuhan dari langit. manusia tinggal memilih, apakah akan membiarkan dirinya tergencet, menghindar dan lari darinya, atau membiarkannya berserakan disekitar, lalu mengumpulkannya sebagai pijakan untuk menggapai sesuatu ditempat tinggi. Kekhawatiran adalah batu loncatan kedewasaan dan keberhasilan seseorang. Jangan pernah kita hawatir pada kekhawatiran yang ada dalam diri kita. keluarkanlah, biarkan menjadi pemacu dan jangan pernah membiarkannya beranak-pinak dalam diri kita dan menjelma kesia-siaan yang menguras tubuh.

Salam

Minggu, 01 Januari 2012

sastra dan sejarah

Sastra adalah sebuah tulisan fiksi yang notabenya sebuah rekaan. Sedangkan sejarah pada hakikatnya adalah sebuah rekam jejak fakta yang ada. Pada keadaan ideal, sebuah fakta sejarah akan selalu berupa kenyataan dan sebuah fakta dalam karya sastra adalah sebuah fakta rekaan.
Sayangnya sering kali sejarah adalah milik para penguasa, para pemenang, para pemilik hegemoni jamannya. Sejarah selalu saja menuliskan peristiwa dengan tendensi mengagungkan penguasa pada zamannya, atau menghujat secara membabi buta. Sangat sulit untuk menemukan sebuah fakta sejarah yang tak tendensius. Salah satu contoh adalah era kelam bangsa indonesia pada medio 65 hingga 70. Saat itu dan pada tahun-tahun berikutnya saat Sang Jendral menjadi penguasa, penghujatan pada anak jadah demokrasi terpimpin, Partai Komunis Indonesia menjadi-jadi. Hampir seluruh buku sejarah mencatat bahwa pada tanggal 30 September PKI membunuh para jendral untuk mengambil alih kekuasaan, lalu muncul Sang Jendral sebagai pahlawan kesiangan yang mengatasi keadaan.
Kejadian 30 September sebenarnya jauh lebih mengerikan dari sekedar pembunuhan para jendral. Sang pahlawan kesiangan membabi buta membabat orang-orang PKI dan tetuduh PKI. pembunuhan merajalela. Data paling konservatif menyebutkan 2 juta rakyat indonesia menjadi korban ''pembersihan'' tersebut. dan sejarah selalu saja hanya menuliskan, Sang Jendra menjaga ketertiban.
Sastra, mampu menjabarkan era itu dengan caranya sendiri. Beberapa karya mengangkat kejadian-kejadian diseputar kudeta konstitusional tersebut. Putu Fajar Arcana dengan lihai dapat menceritakan kepala-kepala yang bferserakan di Bali pada masa itu. Marten Aleida mampu memaparkan kepedihan menjadi tertuduh PKI, bahkan di dalam Ronggeng Dukuh Paruk, digambarkan dengan jelas bagaimana penderitaan seorang lengger yang hanya menari demi melestarikan nama baik desanya yang disebabkan dituduh PKI.
Sastra selalu saja bisa memberikan sebuah refleksi zaman dan para pelakunya. Walau terkadang terkesan fiksi dan subjektif, sastra seringkali lebih mampu menampilkan wajah suatu era jauh lebih objektif dan gamblang dari buku-buku sejarah. Bahkan ada sebuah petikan : jika kau ingin kebohongan, bacalah sejarah, jika kau ingin kebenaran, bacalah sastra.

Salam