BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ethnometodologi adalah salah satu jenis
penelitian kualitatif yang mendasarkan pada filsafat fenomenologi. Jenis
penelitian ini dikatagorikan bukan karena memiliki tata cara, tata metode,
serangkaian ciri dan perilaku yang berbeda dengan jenis-jenis penelitian lainnya.
Berdasarkan istilahnya : Ethnometodologi, mungkin akan ada pertanyaan tentang
bagaimana bentuk penelitian, apa metode khususnya, bagaimana membedakan
metodenya dengan metode lain? Namun akan sangat sulit menemukan jawaban dari
pertanyaan-pertanyan seperti itu. Hal ini disebabkan istilah ethnometodologi
bukanlah sebuah metode seperti studi kasus, survei, deskriptif, dsb. karena
pengertian etnometodologi tidaklah mengacu pada suatu model atau teknik
mengumpulkan, dan menganalisis data ketika seseorang melakukan suatu penelitian
tetapi lebih memberikan arah mengenai masalah apa yang akan diteliti.
Sebagaimana
disebutkan sebelumnya, ethnometodologi
berkembang dari prinsip-prinsip Filsafat fenomenologi. Filsafat fenomenologi
adalah sebuah pandangan yang menganggap bahwa “realitas” adalah sebuah
interaksi antara “objek-objek” dan individu dalam masyarakat yang menghasilkan
yang Edmund Husserl sebagai “yang eksperensial”. Pemahaman akan suatu kejadian,
peristiwa, serta permasalahan pada pandangan fenomenologi dilakukan secara
interpretif, dimana kebenaran diserahkan pada persepsi, pemahaman, dan
penganalisisan pelaku peristiwa.dalam ranah penelitian, pandangan ini mendasari
proses penarikan kesahihan data yang interpretif, dimana kekredibelan data
dikembalika pada subjek penelitian, bukan pada proses interpretasi peneliti.
Fenomenologi, ethnometodologi, dan praktik interpretif adalah tiga hal akan
dibahas dalam makalah sederhana ini. Sumber acuan berupa buku K. Denzin &
Yvonna S. Lincoln. Handbook of Qualitative Researcch. London-New Delhi: Sage
Publications, 1994. Part III. Memuat sekelumit persoalan dan pembahasan tentang
ketiga hal tersebut. Namun dalam penyusunan tulisan ini, dikembangkan
sistematika sederhana yang berbeda dengan buku acuan agar lebih mempermudah
pengembangan dan pembahasan tentang Fenomenologi, ethnometodologi, dan praktik interpretif.
B.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah ini disusun agar pembahasan
tentang fenomenologi, ethnometodologi, dan praktik interpretif dapat dilakukan
dengan lebih terarah. Hal ini dikarenakan sumber-sumber pendukung penulisan
makalah ini memberikan informasi yang lebih signifikan daripada sumber utama,
seperti yang sudah disampaikan di latar belakang. Berikut ini adalah rumusan
masalah makalah ini :
1.
Apakah filsafat
fenomenologi ?
2.
Apakah penelitian
ethnometodologi?
3.
Bagaimanakah praktik
interpretif dilakukan pada sebuah penelitian ethnometodologi?
4.
Bagaimanakah sejarah
perkembangan fenomenologi dan ethnometodologi?
C.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Fenomenologi
Fenomenologi adalah salah satu cabang filsafat yang
memfokuskan kajian (ontologi) pada fenomena-fenomena yang para penganut aliran
ini sebut dengan esensi. Konsep kebenaran bagi mereka bukanlah sesuatu yang
dapat ditangkap dengan indra. Kebenaran adalah sesuatu yang diperoleh dari
proses interaksi apa yang
tertangkap indra dengan penangkap indra. Manusia, sebagai individu berpengaruh
sangat besar pada proses penarikan kebenaran dan pembentukan esensi pada
filsafat fenomenologi. Kebenaran, esensi, terdapat pada suatu objek yang para
penganut fenomenologi sebut fenomena. Mustofa (2000) menyatakan bahwa Fenomena yang tampak adalah refleksi dari realitas yang
tidak berdiri sendiri karena ia memiliki makna yang memerlukan penafsiran lebih
lanjut.
Perkembangan fenemonologi dimulai saat Edmund Husserl
mengemukakan kelemahan-kelemahan posivitisme Agust Comte. Husserl menolak
penggunaan pola berfikir objektif diterapkan dalam penelitian sosial. Bagi
Husserl subjektifitas adalah prinsip yang tidak boleh dilepaskan dari
penelitian sosial. Hal ini berlandaskan pada konsep keterkaitan antara fenomena
dan pelakunya (dalam hal ini masyarakat). Edmund Husserl meletakkan empat (4)
prinsip dasar pada fenomenologi, yaitu intensionalitas, intersubjektivitas,
intuisi atau refleksi, dan logika transedental. Pengembangan fenomenologi
kemudian diteruskan oleh Alferd Schutz yang mengenalkan konsep natural attitude. Prinsip ini menekankan
pada setting penelitian yang harusnya alamiah, bukan ilmiah, tanpa perilaku dan
tidakan yang dirancang atau diberikan oleh orang lain (peneliti).
Peter L. Berger mengembangkan fenomenologi dengan
penerapannya pada masyarakat sebagai salah satu objek kajian penelitian sosial.
Masyarakat memiliki ide, budaya, dan nilai yang mengatur pola kehidupan mereka.
Ketiga aspek tersebut tidak dapat dipisahkan dengan individu sebagai anggota
masyarakat. Jika hal tersebut dianalisis
dengan pendekatan positivis, maka nilai-nilai itu harus dipisahkan, (tidak
berinteraksi dengan pemakainya- masyarakat) karena menurut paham positivisme,
suatu sistem nilai harus objektif, dan interaksi dengan pemakai dianggap
sebagai sebuah proses subjektivisasi. Berger menyatakan bahwa ide, nilai, budaya, norma dilihat
sebagai pusat organisasi yang mensosialisasikan maknanya pada masing-masing anggotanya.
Dalam proses tersebut terdapat tiga jenis tindakan yang dilakukan masyarakat :
1.
Internalisasi. Masyarakat mempengaruhi
individu di dalamnya
2.
Eksternalisasi. Individu mempengaruhi
masyarakat krn ia bagiandarnya
3.
Obyektivasi. Individu memaknakan
kembali nilai dalam kelompoknya (masyarakat).
Fenomenologi yang di berusaha memahami budaya lewat pandangan pemilik
budaya atau pelakunya. Suwardi (2008) menyataka menurut
paham fenomenologi, ilmu bukanlah values free, bebas nilai dari apapun,
melainkan values bound, memiliki hubungan dengan nilai. Aksioma dasar fenomenologi
adalah:(a) kenyataan ada dalam diri manusia baik sebagai indiividu maupun
kelompok selalubersifat majemuk atau ganda yang tersusun secara kompleks,
dengan demikian hanya bisaditeliti secara holistik dan tidak terlepas-lepas;
(b) hubungan antara peneliti dan subyekinkuiri saling mempengaruhi, keduanya
sulit dipisahkan; (c) lebih ke arah pada kasus-kasus,bukan untuk
menggeneralisasi hasil penelitian; (d) sulit membedakan sebab dan akibat,karena
situasi berlangsung secara simultan; (e) inkuiri terikat nilai, bukan values
free
Penelitian Fenomenologis menitikberatkan pada pemahaman
subjek, pelaku dalam masyarakat yang mengalami sendiri fenomena-fenomena
tersebut. Pengintegrasian individu, konsep, aksi, reaksi, persepsi dll. Itulah
yang kemudian dalam bidang penelitian memunculkan sebuah jenis penelitian yang
disebut ethnometodologi. Sebuah jenis penelitian yang secara harfiah berasal
dari tiga kata : ethno = manusia , methodos = cara, logos = ilmu.
B.
Ethnometodologi
Telah disampaikan pada bab sebelumnya bahwa ethnometodologi bukanlah
sebuah metode khusus tentang bagaimana melakukan sebuah penelitian.
Ethnometodologi adalah studi tentang bagaimana individu menciptakan dan memahami
kehidupannya. Palolli (2010) meyatakan bahwa etnometodologi
mempunyai pengertian sekumpulan pengetahuan berdasarkan akal sehat dan rangkaian prosedur serta pertimbangan (metode) yang mana
masyarakat biasa dapat memahami, mencari tahu, dan bertindak berdasarkan
situasi dimana meraka menemukan jati diri. Penelitian etnometodologi berupaya
untuk memahami bagaimana masyarakat memandang, menjelaskan dan menggambarkan
kata hidup mereka sendiri. Penelitian Ethnometodologi memiliki dasar pola pikir
fenomenologis, seperti sudah disampaikan sebelumnya. Penelitian jenis ini
banyak mengungkapkan interaksi individu dalam masyarakatnya, susunan masyarakat
yang khas, persoalan-persoalan dalam masyarakat, bahkan sebuah gambaran yang
utuh dari masyarakat yang menjadi subjek penelitian tersebut.
Ethnometodologi berkembang pada masa keemasan penelitian kualitatif pada
dekade 70-an. Menurut Garfinkel, tokoh pencetus ide mengenai Etnometodologi,
istilah ini muncul setelah ia membaca arsip studi lintas budaya di Universitas
Yale yang memuat istilah-istilah seperti Ethnobotany,
etnhophysics dan ethnoastronomy. Ketiga istilah di atas mengenai masyarakat
yang masih hidup terpencil telah mengenal kehidupannya dengan baik, mereka
memiliki pengetahuan dan cara-cara menyelesaikan masalah dalam hidup mereka. Memang
dalam perkembangannya penelitian jenis ini banyak mendapat stigma negatif. Hal
tersebut dikarenakan para peneliti pada awal perkembangan penelitian sosial meneliti
masyarakat yang mereka anggap “unik” di daerah-daerah koloni atau jajahan untuk
kepentingan-kepentingan, atau setidaknya secara tidak langsung digunakan untuk
kepentingan bangsa penjajah. Di Indonesia sendiri, ada sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Snouck Horjounge di Aceh yang menyebabkan kekakalahan perang
Aceh bagi pihak pribumi.
Etnometodologi menurut
Garfinkel (melalui Alvin, 2011) adalah sebuah studi tentang bagaimana
orang-orang sebagai pendukung dari tatanan yang lazim menggunakan sifat-sifat
tatanan itu untuk agar bagi para warga dapat terjadi ciri-ciri terorganisasi
yang kelihatan nyata. Para ahli etnometodologi
berupaya bagaimana cara orang memandang, menjelaskan, dan memberikan
tatanan di dunia tempat hidupnya. Etnometodologi
telah berhasil mengajak peneliti menjadi peka terhadap isu, yaitu
penelitian itu sendiri bukan upaya ilmiah yang khas, tetapi lebih dilihat
sebagai suatu pencapaian kerja yang praktis (Bogdan dan Biklen, via nn- web. 2012).
Metode etnometodologi memiliki
warna kajian yang berbeda dibanding metode kualitatif yang lain. Bertolak dari
tradisi fenomenologis, yaitu social phenomenology yang dikembangkan
Schultz, etnometodologi
kemudian mengembangkan diri melalui jalur analitik dari hukum-hukum dasar,
kemudian mengalami pengayaan diberbagai konstruksi, yang meliputi analisis
percakapan dan kaidah interpretif.
Subjek kajian etnometodologi bukanlah
suku-suku terasing, tetapi orang-orang biasa yang kita temui sehari-hari. Etnometodologi meneliti
hal-hal kecil dan sepele yang ‘hidup’ di masyarakat. Kaum peneliti etnometodologi bahkan percaya
bahwa penelitian itu sendiri tidak harus berarti kegiatan ilmiah yang sangat
unik, tetapi bisa juga dilakukan untuk hal-hal praktis dan urusan sehari-hari. Etnometodologi menekankan dan
mengakui fakta bahwa masyarakat awam (lay public) mencoba mengakui
penjelasan sosial seperti yang dilakukan oleh ilmuwan. Lebih lanjut akal sehat
mencoba menjelaskan bahwa anggota masyarakat membuat dan menjalankan rasa
sosial (kesetiakawanan sosial) secara terus menerus.
Penelitian ethnometodologi adalah suatu jenis penelitian kualitatif yang
membahas tentang interaksi individu dalam masyarakat. Ada tiga hal harus
diperhatikan dalam setiap penelitian ethnometodologi, individu, nilai dalam
masyarakat dan struktur organisasi masyarakat. Penelitian ini menitikberatkan
pada proses percakapan dalam pengumpulan data. Teknik yang disarankan adalah
teknik rekam dan catat. Pemerolehan keterangan (data yang telah di-interpretif
oleh subjek) dilakukan dengan analis percakapan. Terdapat lima prinsip dalam
menganalisis percakapan menurut Zimmerman (1978), yakni:
1.
Pengumpulan dan analisis data yang sangat rinci tentang
percakapan
2.
Aspek-aspek kecil percakapan tidak hanya diatur oleh
ahli etnometodologi akan tetapi pada mulanya oleh aktor sendiri
3.
Interaksi dan percakapan bersifat stabil dan teratur.
Peneliti bersifat otonom, terpisah dari ackor
4.
Kerangka percakapan fundamental adalah organisasi yang
teratur
5.
Rangkaian interaksi percakapan dikelola atas dasar
tempat atau bergiliran.
C. Praktek
Interpretif.
Praktek interpretif adalah sebuah pendekatan terhadap pemaknaan data
dalam sebuah penelitian yang ada dalam penelitian yang berlandaskan pada
filsafat fenomenologi. Interpretif menekankan pada pemahaman subjek terhadap
realitas yang ada dalam masyarakat. Denzin dan Lincoln (199) berangkat dari
asumsi bahwa dalam setiap interaksi sosial yang dilakukan peserta dalam sebuah
struktur organisasi akan ada pemahaman sendiri yang didapat dalam setiap
pengamatan percakapan. Pada kenyataannya, Denzin dan Lincoln menyampaikan
bagian ini secara acak, menyebar dan terkesan ambigu. Keambiguitasan pembahasan
praktek interpretif adalah cukup sering adanya istilah interpretasi dan
interpretif yang muncul secara bersamaan. Entah hal tersebut dikarenakan
penerjemah, maupun dalam proses sistematika buku tersebut secara umum.
Proses pemaknaan fenomena yang dilakukan oleh subjek yang pada tahap
selanjutnya direkam dalam sebuah penelitian melibatkan beberapa aspek yang ada
pada lingkungan penutur, responden, atau apapun istilah yang digunakan untuk
menyebutkan orang yang memberikan informasi pada kita tentang sebuah fenomena.
Beberapa hal yang mempengaruhi hal tersebut antara lain penggunaan kosa kata,
tendensi secara kelembagaan, tendensi profesional, serta budaya yang terdapat pada setting
penelitian itu sendiri. Aspek-aspek tersebut dinakaman sebagai sumber-sumber
interpretif lokal oleh Denzin dan Lincoln.
Pemaknaan sebuah fenomena dalam penelitian-penelitian sosial , penelitian
kualitatif, dan pada khususnya penelitian ethnometodologis yang menggunakan
praktek interpretif sangat dipengaruhi oleh konteks sosial , wacana , dan
linguis. Konteks sosial seperti adat, kebudayaan, kesantunan lokal, nilai-nilai
agama mayoritas, dsb. Memberikan pengaruh yang cukup signifikan pada pemahaman
subjek pada fenomena yang ada. Konteks wacana menjadi semacam pembatasan akan
apa yang akan dibahas dalam proses percakapa yang menjadi tindakan perekaman
data. Sedangkan aspek-aspek linguistik seperti semantik bahasa penutur, sistem
penandaan makna, retorika, intonasi juga mempengaruhi pemahaman peneliti pada
apa yang disampaikan oleh subjek.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Tiga hal yang menjadi pokok pembicaraan dalam
tulisan ini : filsafat fenomenologi, penelitian ethnometodologi, dan praktek
interpretif adalah tiga hal yang saling terkait. Filsafat Fenomenologi adalah
dasar berfikir dari penelitian ethnometodologi. Pengembangan jenis penelitian
tersebut juga selalu secara fundamental didasari pada pandagan fenomenologi,
khususnya fenomenologi sosial yang dikembangkan Alferd Schutz.
Penelitian ethnometodologis, dalam operasionalnya sangat mengandalkan teknik
interpretif yang mendasarkan pemaknaan sebuah data pada persepsi dan proses
interaksi subjek dengan fenomena yang diteliti.
Filsafat fenomenologi adalah sebuah cara pikir yang
menitikberatkan pada fenomena yang terjadi dan interaksi antara manusia dan
lingkungannya. Filsafat ini menolak objektifitasan positivis yang memisahkan
pelaku dengan nilai, kejadian, konsep, dsb. Penelitian ethnometodologi adalah
sebuah penelitian yang memfokuskan kajiannya pada interaksi manusia dalam
masyarakat. Baik terhadap nilai, kejadian, kasus, struktur, dsb. Penelitian
jenis ini menggunakan praktik interpretif saat memahami data berupa percapakan
yang didapatkan melalui wawancara maupun observasi. Teknik interpretif adalah
proses pemahaman data yang didasarkan pada persepsi dan pemahaman subjek
penelitian.
B.
Saran
Pembacaan pada Phenomenology, Ethnomethodology, and Interpretive
Practice (James A. Holstein and Jaber F. Gubrium) memiliki
tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Terdapat beberapa hal yang terkesan
“kabur” dan sistematika penyusunan yang agak “menyebar”.Namun hal tersebut
dapat diatasi dengan pencarian literatur baik dalam Bahasa Inggris, maupun
Bahasa Indonesia dalam bentuk buku, jurnal, slide, bahkan materi blogging.
Disarankan kepada perumus-perumus literasi berikutnya agar terlebih dulu
membuat sistematika sendiri agar pembahasan tentang materiyang akan dibahas
akan lebih fokus.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Bungin,
Burhan. 2010. Penelitian Kualitatif.
Jakarta :Prenadia
Norman
K. Denzin & Yvonna S. Lincoln, 2000, edisi kedua, Handbook of
Qualitative Research, diterjemahkan oleh : Dariyatno, dkk, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta.
Artikel dan jurnal
Anonim. - - . Phenomenology And Ethnomethodology
Douglas W. Maynard and Steven E. Clayman . 2003. Ethnomethodology
and Conversation Analysis. Jurnal Annual Reviews
Douglas W. Maynard and Steven E. Clayman .1998. The Diversity of Ethnomethodology . Jurnal
Annual Reviews
Hamid, Farid Umarela. - - . Ethnometodologi
: Suatu Penelitian Kualitatif. Universitas Pelita Harapan.
Paul Atkinson. 1988. Ethnomethodology:
A Critical Review. Department of Sociology, University College,
Cardiff, Cardiff CFI 1XL, United Kingdom. Jurnal Annual Reviews
Web
Suwardi.
-- . Fenomenologi (Jurnal Scribid) (unpublish).
Palaloi,
Hamzah. 2010. Riset Etnometodologi.
(catatan blogging : link blog crash)
Mustofa,
Chabib. --. Kualitatif Fakultas Dakwah
. ppt (slide pembelajaran mata kuliah metode penelitian)