Aku mencarimu dilembar-lembar kalender yang hampir habis
Aku memelototi setiap saluran televisi yang menyiarkan kaledioskop.
Berharap
Kau terselip di sela-sela berita tikus-tikus yang
menggerayangi meja.
Meja kantor, meja bank, meja besi, bahkan meja hijau dan
meja-meja yang belum dipelitur
Beberapa kali aku juga menengok ke kebun di belakang rumah
Takut kau digondol dan dibawa kesana
Oleh kucing-kucing yang makin aneh di bangsa ini.
Kucing disini sudah bisa salto, geol kanan kiri, kayang,
bahkan mungkin rol depan dan rol belakang.
Ya, begitulah sepertinya jika yang bisa dijual hanya
selangkangan.
Oh iya, aku hampir saja lupa .
aku tidak mencarimu untuk menemukan selangkanganmu.
Juga buah dadamu yang kata para tetangga tak sebesar
dada-dada yang mereka tonton di televisi.
Ah, kau tahu lah, bangsa kita selalu saja dicolok matanya
dengan dada dan paha.
Dada paha dada paha dada paha, begitulah.
Aku mencarimu, bukan untuk mengatakan aku mencintaimu.
Aku hanya mencarimu, karena dua sajadah sudah terbentang
Dan hafalan ayat suciku sepertinya sudah cukup untuk menjadi
imammu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar