Minggu, 23 Desember 2012

Sebuah Hadiah Ulang Tahun


Selasar depan rumah masih sangat sepi. Ada cahaya remang dari lampu kecil yang berpendaran malu-malu di tengahnya. Kursi usang terpaku seperti menanti seseorang bersandar di sana. Ingin rasanya menemani kursi usang itu terpaku di ujung sana. Menemaninya , berbagi kesendirian, berbagi kesunyian, dan mungkin berbagi cerita tentang kerinduan dengannya. Tapi tak ada satupun langkah yang kuambil. Aku tetap di sini, di ujung lain selasar rumah. Bersandar pada dinding yang terasa lembab dan dingin. Sendiri. Tanpa seorang kawanpun, bahkan tanpa secangkir teh panas yang biasa kau buatkan untukku, dulu.  Aih, mengapa aku semelankolis ini. Lelaki kecil yang rapuh. Ah, sudahlah , memang mungkin harus sudah saatnya aku berdamai dengan  diriku, mungkin memang sudah harus kuakui, aku merindukanmu.
Aku bukan sedang mengenangmu. Aku hanya sedang membayangkan apakah hadiah ulang tahun yang kukirimkan 3 hari yang lalu sudah sampai padamu. Ingin sebenarnnya aku menanyakan padamu lewat pesan singkat dari ponselku. Tapi tak kulakukan, aku tak mau kau tahu bahwa aku merindukanmu. Ah, kurasa bukan rindu, atau setidaknya itulah yang tak mau kuakui. Aku belum mau berdamai dengan diriku. Saat hari ulang tahunmu dalam pesan pendekku kutuliskan, “Selamat hari lahir, semoga menjadi pengingat akan batas lain dari kehidupan”. Dan balasanmu, “Terimakasih Mas, lama ya tak ada kabar, bagaimana kabar, baik?” . “Baik, maaf tidak bisa memberikan apa-apa.” Ya, itulah balasanku padamu, Aku tak mau kau tahu, diam-diam aku merindukanmu, mengirim hadiah ulang tahun untukmu. Bukannya apa-apa, aku hanya tak ingin kau tahu bahwa aku mengirim hadiah padamu, aku tak mau kau tahu masih ada sedikit kerinduan untukmu, ah benarkah aku merindukanmu? Ah, mungkin tidak.
Mungkin hadiahku sudah sampai padamu, atau setidaknya sampai di kotamu pada hari ulang tahunmu, atau setidaknya sudah sampai kemarin. Bahkan jika angin tak terlalu cepat membawanya selambat-lambatnya hadiah ulang tahunmu akan sampai padamu hari ini. Hadiah ulang tahunmu memang kutitipkan pada angin. Sebuah cara yang sudah tidak terlalu banyak orang menggunakannya. Bukan apa-apa, aku hanya malas mengirimkan melalui jasa antar barang yang pasti akan meminta identitas dan alamatku, bukan apa-apa, aku hanya tak ingin kau tahu bahwa aku mengirimkan hadiah ulang tahun padamu. Aku juga tak mau menitipkannya pada seorang kurir. Aku takut ia akan membukanya sebelum hadiah itu sampai padamu. Kudengar pernah ada seorang sastrawan yang mengirimkan senja kepada kekasihnya, namun kurir yang mengirimkannya justru membuka amplopnya. Kabarnya terjadi sesuatu yang mengerikan, tapi ada juga kabar bahwa sang kurir menjadi lebih terkenal dari sang pengirim karena menjual kisah tentang amplop yang terbuka itu. Entahlah, aku tak terlalu tahu apa yang terjadi, lagipula tidak ada yang bisa membedakan antara omong kosong kabar burung, dan kenyataan sekarang ini. Aku hanya tak ingin orang lain tahu aku mengirimkan hadiah ulang tahun padamu. Apalagi sampai kekasihmu sekarang tahu, aku akan tak enak hati padamu.
 Gerimis kecil mulai kembali turun. Kuperhatikan pulir-pulir hujan satu persatu, mungkin saja itu adalah air matamu yang kau kirimkan untukkku. Ah, kenapa aku mengharapkan kau menangis karena hadiah ulang tahunmu? Maaf jika itu yang terjadi, tapi tak ada seorang pun tahu arti dari sebuah air mata. Ia bisa saja meleleh dari sebuah keharuan, atau pecah dari sebuah kesedihan, atau mungkin mengembun dari sebuah kebahagian, meretas dari ketakjuban, atau mungkin saja yang lain. Selalu saja ada seribu kemungkinan saat kita melihat sebuah air mata. Hanya saja ada sebuah kepastian, ada sebuah kenangan dalam satu pulir air mata. Gerimis reda, tak ada satupun pulir air matamu. Gerimis yang sangat sebentar, sebuah gerimis yang sederhana, tanpa aksesoris yang berlebihan, hanya sebuah gerimis kecil setelah hujan reda pada sebuah malam. Tak ada yang istimewa.
Angin bertiup perlahan, menerbangkan bau tanah basah, rumput yang masih enggan menggeliat, dan bau akar-akar yang melepas kerinduan. Aku teringat, dan baru tersadar, gerimis ini, atau setidaknya gerimis seperti ini adalah gerimis yang beberapa waktu lalu menemaniku membuat hadiah ulang tahunmu. Ya, hadiah itu kubuat sendiri enam hari sebelum hari ulang tahunmu. Aku sekarang mengingatnya, dini hari itu gerimis seperti ini datang,  aku teringat kau selalu mengatakan sangat suka gerimis, sebuah gerimis yang sederhana, tanpa aksesoris yang berlebihan, hanya sebuah gerimis kecil yang disusul angin yang perlahan bertiup meranumkan bau tanah basah, rumput yang masih enggan menggeliat, dan bau akar-akar yang melepas kerinduan. Kau sangat suka membauianya. Kau pasti akan memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, merentangkan kedua tanganmu seperti akan memeluk sesuatu, sedikit senyum menyungging di bibirmu. Beberapa saat kau tak akan melakukan apapun, hingga kemudian kau perlahan melepaskan nafas, sangat pelan, seakan tidak mau melepaskan udara dalam dadamu. Kau lalu akan tersenyum riang sambil berkata,” Aku suka bau tanah setelah gerimis”   sambil menoleh atau menatap kearahku. pernah suatu ketika aku bersembunya saat kau mulai menutup mata dan menghirup udara dalam-dalam. Kau kebingungan mencariku saat kau membuka mata dan tentu saja dengan senyum riangmu kau berkata, “Aku su..” kata-katamu terputus, aku sudah tak ada ditempatku sebelumnya. Senyummu hilang, kau tampak murung, awalnya kuharapkan kau akan jengkel dan mencubitku dengan manja saat aku mendekatimu. Tapi tidak, kau tak melakukan apa-apa. Kau diam, tak berkata apapun. Ada keceriaan yang lenyap dari wajahmu. Wajah yang tak pernah tampak sayu, mendadak layu.
Langit gelap. Aku masih berdiri di selasar rumah, menunggu matahari yang mungkin sebentar lagi muncul. Aku tak sedang mengenangmu, aku hanya memikirkan apakah hadiah ulang tahunmu dariku sudah sampai padamu? Sebuah hujan yang kusulam sendiri. Kusulam dengan benang yang terbuat dari bulu-bulu kerinduan, bukan dari bulu-bulu domba australia yang orang lain pakai untuk membuat syal, atau mungkin air liur ulat. Aku menyulamnya dengan sangat hati-hati. Aku tak ingin kau tak mengenali hujan yag sedang kusulam. Hujan yang cukup besar, dengan jalan-jalan perumahan, gang-gang yang jalannya tertutup paving blok, pohon-pohon. Kusulam dengan sangat teliti. Bahkan kugunakan benang yang agak usang untuk l-angitnya yang abu-abu, anginnya yang agak kencang, serta tetesnya yang besar-besar dan turun dengan lebat. Kusulam pula air yang sudah menggenang tinggi, selokan-selokan yang meluap, sedikit sampah di tengah jalanan yang berkubang air. Anjing-anjing yang kedinginan di teras-teras rumah. Sayangnya aku tak menemukan benang yang cocok untuk membuat sepeda motor yang dulu kita gunakan untuk berjalan-jalan menerobos hujan. Berkeliling kompleks tanpa helm, menikmati kecerian kanak-kanak yang seringkali terenggut kedewasaan. Ya, kukirimkan untukmu sebuah hujan untuk hadiah ulang tahunmu. Sudah sampaikah disana?
                                                            **
 Seorang perempuan  duduk di pojok kedai kopi yang sudah walau malam belum larut. Secangkir teh yang tinggal setengah nampak sudah dingin ada di mejanya. Ia menatap lalu lalang di jalanan melalui kaca. Ia tersenyum saat semuanya nampak bergegas saat hujan mulai turun. Ia memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, merentangkan kedua tanganmu seperti akan memeluk sesuatu, kemudian kedua tangannya mengatup. Masih memejamkan mata, ia mendekatkan tangannya pada bibir mungilnya. Setengah berbisik ia mengatakan sesuatu. Kemudia ia melihat  beberapa orang masuk. Berteduh dari hujan pertama di kota mereka sambil ditemani secangkir kopi. Musim hujan akan segera datang. Tak beberapa lama hujan mereda. Ternyata hanya sebuah gerimis yang sebentar. Perempuan itu tersenyum, lamat-lamat ia bergumam, “gerimis yang sederhana”. Ia membuka kedua tangannya, meniupkannya angin diatasnya, seakan-akan menitipkan sesuatu pada angin. Ia menatap ke langit di luar sana. Setetes pulir hujan mulai jatuh dari matanya.   

Yogyakarta, Desember 2012

1 komentar:

  1. Borgata Hotel Casino & Spa - JTR Hub
    Located in Atlantic City, Borgata Hotel 출장샵 Casino & 슬롯 나라 Spa offers the finest in amenities and entertainment. It 제이티엠허브출장안마 also provides a 1xbet korean seasonal outdoor swimming 사이트 추천

    BalasHapus