Kau memintaku menulis sajak cinta sebagai bukti aku
mencintaimu.
Berlagak sebagai penyair, aku menyanggupinya
Pagi
Kubongkar gudang kata-kata di kepalaku. Agak berdebu,
kupilah-pilah kata yang sudah terlalu usang dan lapuk, dengan kata-kata yang
belum terlalu termakan usia.
Kubongkar-bongkar tumpukan kata, kucari yang mungkin cocok
kutuliskan untuk sajakku nanti.
Tidak cukup, kubuka kamus-kamus. Dari kamus cetak, kamus
berformat PDF, hingga kamus online yang mengajarkan adik-adik kita kemudahan
dan kemalasan.
Siang
Kuberjalan ke kebun kenangan di sebelah rumah
Dengan clurit di tangan kurapikan ilalang dan rumput teki
yang membuat kebun terlihat semrawut.
Kupanjat beberapa pohon untuk mencari dan memilih kenangan
yang sudah ranum, masih harum, dan merekah.
Bukan kenangan yang sudah busuk, ataupun kenangan yang belum
matang.
Saat memilih mana yang akan kupetik, aku mencicipinya sedikit
agar tak salah mengambil kenangan yang agak asam apalagi pahit.
Ya, kenangan yang paling manislah yang kupetik.
Malam
Kutunggu rahib, pendeta, dan ulama tertidur lelap.
Aku akan mencuri kitab suci mereka.
Mencabik-cabiknya untuk menemukan kisah cinta dan kasih
sayang , sesuatu yang tidak pernah mereka pakai dalam khotbah-khotbah keagamaan
di negeri ini.
Tentu saja Aku tidak lupa menyebut nama Tuhan saat mulai
meretas benang penjilid dan kukuku mulai menancap di lembaran-lembaran awal
setiap kitab yang kubuka.
Walau agak kesusahan akhirnya aku menemukan beberapa kisah
yang kurasa akan cukup membuat sajakku menjadi sajak cinta yang tak biasa.maklumlah,
mungkin cinta dan kasih sayang terlalu lama tertimbun, tertindih amarah dan
kebencian yang sering mereka gunakan saat mengutipnya,
Dini Hari
Kata-kata sudah berserakan di atas piring saji, beberapa
buah kenangan yang sudah kucuci bersih, bahkan dengan larutan yang membuatnya
higienis sudah di dalam keranjang. Kisah-kisah dari beberapa kitab suci bahkan
sudah kumasukkan dalam toples tak tembus pandang agar tak ada yang tahu mereka
ada disana.
Tapi ternyata tidak mudah menjadi seorang penyair.
Tidak mudah menulis sebuah sajak cinta, apalagi untukmu
sayang.
Setiap kata berlarian sesuai keinginannya. Ada yang menari
di atas sendok, bermain petak umpet di kotak tisu, menjilati kaki mena, bahkan
beberapa darinya asyik menggerogoti buah kenangan di dalam keranjang hingga
beberapa buah berlubang di sana-sini. Dan kisah-kisah dalam kitab suci? Mereka mengunci
dirinya karena ketakutan.
Takut pada segerombolan kata-kata yang mungkin akan
menggigitinya, dan takun pada keriuahan yang ada di luar toples.
Ayam berkokok
Aku teringat Roro Jongrang dan Dayang Sumbi.
Sajakku belum jadi, bahkan satu katapun belum kutulis.
Sambil membayangkan wajah manjamu yang pasti akan merajuk
aku teringat seorang penyair pernah berkata :
Karena cinta adalah kau yang tak mungkin kusebut kecuali
dengan denyut.
Jogjakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar