Minggu, 16 Desember 2012

Sajak Cinta


Kau memintaku menulis sajak cinta sebagai bukti aku mencintaimu.
Berlagak sebagai penyair, aku menyanggupinya

Pagi
Kubongkar gudang kata-kata di kepalaku. Agak berdebu, kupilah-pilah kata yang sudah terlalu usang dan lapuk, dengan kata-kata yang belum terlalu termakan usia.
Kubongkar-bongkar tumpukan kata, kucari yang mungkin cocok kutuliskan untuk sajakku nanti.
Tidak cukup, kubuka kamus-kamus. Dari kamus cetak, kamus berformat PDF, hingga kamus online yang mengajarkan adik-adik kita kemudahan dan kemalasan.

Siang
Kuberjalan ke kebun kenangan di sebelah rumah
Dengan clurit di tangan kurapikan ilalang dan rumput teki yang membuat kebun terlihat semrawut.
Kupanjat beberapa pohon untuk mencari dan memilih kenangan yang sudah ranum, masih harum, dan merekah.
Bukan kenangan yang sudah busuk, ataupun kenangan yang belum matang.
Saat memilih mana yang akan kupetik, aku mencicipinya sedikit agar tak salah mengambil kenangan yang agak asam apalagi pahit.
Ya, kenangan yang paling manislah yang kupetik.

Malam
Kutunggu rahib, pendeta, dan ulama tertidur lelap.
Aku akan mencuri kitab suci mereka.
Mencabik-cabiknya untuk menemukan kisah cinta dan kasih sayang , sesuatu yang tidak pernah mereka pakai dalam khotbah-khotbah keagamaan di negeri ini.
Tentu saja Aku tidak lupa menyebut nama Tuhan saat mulai meretas benang penjilid dan kukuku mulai menancap di lembaran-lembaran awal setiap kitab yang kubuka.
Walau agak kesusahan akhirnya aku menemukan beberapa kisah yang kurasa akan cukup membuat sajakku menjadi sajak cinta yang tak biasa.maklumlah, mungkin cinta dan kasih sayang terlalu lama tertimbun, tertindih amarah dan kebencian yang sering mereka gunakan saat mengutipnya,

Dini Hari
Kata-kata sudah berserakan di atas piring saji, beberapa buah kenangan yang sudah kucuci bersih, bahkan dengan larutan yang membuatnya higienis sudah di dalam keranjang. Kisah-kisah dari beberapa kitab suci bahkan sudah kumasukkan dalam toples tak tembus pandang agar tak ada yang tahu mereka ada disana.
Tapi ternyata tidak mudah menjadi seorang penyair.
Tidak mudah menulis sebuah sajak cinta, apalagi untukmu sayang.
Setiap kata berlarian sesuai keinginannya. Ada yang menari di atas sendok, bermain petak umpet di kotak tisu, menjilati kaki mena, bahkan beberapa darinya asyik menggerogoti buah kenangan di dalam keranjang hingga beberapa buah berlubang di sana-sini. Dan kisah-kisah dalam kitab suci? Mereka mengunci dirinya karena ketakutan.
Takut pada segerombolan kata-kata yang mungkin akan menggigitinya, dan takun pada keriuahan yang ada di luar toples.

Ayam berkokok
Aku teringat Roro Jongrang dan Dayang Sumbi.
Sajakku belum jadi, bahkan satu katapun belum kutulis.
Sambil membayangkan wajah manjamu yang pasti akan merajuk aku teringat seorang penyair pernah berkata :
Karena cinta adalah kau yang tak mungkin kusebut kecuali dengan denyut.

Jogjakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar