Minggu, 04 November 2012

Agama, Sosial, dan Pola Pikir dalam sejarah Pemikiran Kritis

Agama, Sosial, dan pola berfikir adalah ketiga bidang yang banyak bersinggungan dengan pemikiran kritis. Ketiga hal tersebut menjadi kajian-kajian yang sering dibahas dan menjadi bahan utama pemikiran filsafat. Perkembangan pemikiran dan filsafat mutakhir (setidaknya seabad ini) mayoritas menyoal ketiga bidang ini.

Agama sebagai sebuah sistem dogma yang "Ilahiah" awalnya dipandang secara normatif oleh para pemeluknya. Agama dilaksanakan, ditunaikan dengan apa adanya, sesuai dengan aturan yang ada, hingga kadangkala esensi dari sebuah agama menjadi sangat kabur. Menyitir pendapat seorang kawan : Agama di Indonesia sekarang hanya mengajarkan formalitas, mejadi sebuah rutinitas yang sangat mekanis. Pandangan-pandangan normatif terhadap agama mengalami perkembangan yang berbeda-beda. Ajaran agama mulai dipandang secara kritis pada era Islam Andalusia berkembang di Semenanjung Iberia. secara historis pemikiran kritis dalam agama terjadi pada masa itu dan masa teologi pembebasan di Amerika Latin. Agama, memang seharusnya berada pada setiap segi kehidupan. namun bukan berarti agama, apapun itu adalah sebuah "Kurungan ayam" yang akan selalu cocok diletakkan dimanapun, dan untuk jenis "ayam" apapun. dalam sebuah masyarakat, kebudayaan, atau jika boleh menyebut peradaban, seharusnya ada asimilasi dan pelenturan-pelenturan yang ada. dalam proses tersebutlah, diperlukan pemikiran kritis namun tetap mengakar, sehingga dalam prakteknya ajaran aga menjadi sesuatu yang esensial, bukan sesuatu yang mengatur ritual secara seremonial belaka.

Pemikiran kritis dalam sejarah peradaban manusia menghasilkan paham-paham seperti komunisme, sosialisme, dan beberapa paham lainnya.  sedangkan kekritisan pemikiran tentang pola pikir manusia yang cukup terkenal adalah dekonstruksi yang dikenalkan oleh jaques Derrida.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar