Rabu, 26 Desember 2012

Mencari


Aku mencarimu dilembar-lembar kalender yang hampir habis
Aku memelototi setiap saluran televisi yang menyiarkan kaledioskop.
Berharap
Kau terselip di sela-sela berita tikus-tikus yang menggerayangi meja.
Meja kantor, meja bank, meja besi, bahkan meja hijau dan meja-meja yang belum dipelitur

Beberapa kali aku juga menengok ke kebun di belakang rumah
Takut kau digondol dan dibawa kesana
Oleh kucing-kucing yang makin aneh di bangsa ini.
Kucing disini sudah bisa salto, geol kanan kiri, kayang,
bahkan mungkin rol depan dan rol belakang.
Ya, begitulah sepertinya jika yang bisa dijual hanya selangkangan.

Oh iya, aku hampir saja lupa .
aku tidak mencarimu untuk menemukan selangkanganmu.
Juga buah dadamu yang kata para tetangga tak sebesar dada-dada yang mereka tonton di televisi.
Ah, kau tahu lah, bangsa kita selalu saja dicolok matanya dengan dada dan paha.
Dada paha dada paha dada paha, begitulah.

Aku mencarimu, bukan untuk mengatakan aku mencintaimu.
Aku hanya mencarimu, karena dua sajadah sudah terbentang
Dan hafalan ayat suciku sepertinya sudah cukup untuk menjadi imammu.

Minggu, 23 Desember 2012

Sebuah Hadiah Ulang Tahun


Selasar depan rumah masih sangat sepi. Ada cahaya remang dari lampu kecil yang berpendaran malu-malu di tengahnya. Kursi usang terpaku seperti menanti seseorang bersandar di sana. Ingin rasanya menemani kursi usang itu terpaku di ujung sana. Menemaninya , berbagi kesendirian, berbagi kesunyian, dan mungkin berbagi cerita tentang kerinduan dengannya. Tapi tak ada satupun langkah yang kuambil. Aku tetap di sini, di ujung lain selasar rumah. Bersandar pada dinding yang terasa lembab dan dingin. Sendiri. Tanpa seorang kawanpun, bahkan tanpa secangkir teh panas yang biasa kau buatkan untukku, dulu.  Aih, mengapa aku semelankolis ini. Lelaki kecil yang rapuh. Ah, sudahlah , memang mungkin harus sudah saatnya aku berdamai dengan  diriku, mungkin memang sudah harus kuakui, aku merindukanmu.
Aku bukan sedang mengenangmu. Aku hanya sedang membayangkan apakah hadiah ulang tahun yang kukirimkan 3 hari yang lalu sudah sampai padamu. Ingin sebenarnnya aku menanyakan padamu lewat pesan singkat dari ponselku. Tapi tak kulakukan, aku tak mau kau tahu bahwa aku merindukanmu. Ah, kurasa bukan rindu, atau setidaknya itulah yang tak mau kuakui. Aku belum mau berdamai dengan diriku. Saat hari ulang tahunmu dalam pesan pendekku kutuliskan, “Selamat hari lahir, semoga menjadi pengingat akan batas lain dari kehidupan”. Dan balasanmu, “Terimakasih Mas, lama ya tak ada kabar, bagaimana kabar, baik?” . “Baik, maaf tidak bisa memberikan apa-apa.” Ya, itulah balasanku padamu, Aku tak mau kau tahu, diam-diam aku merindukanmu, mengirim hadiah ulang tahun untukmu. Bukannya apa-apa, aku hanya tak ingin kau tahu bahwa aku mengirim hadiah padamu, aku tak mau kau tahu masih ada sedikit kerinduan untukmu, ah benarkah aku merindukanmu? Ah, mungkin tidak.
Mungkin hadiahku sudah sampai padamu, atau setidaknya sampai di kotamu pada hari ulang tahunmu, atau setidaknya sudah sampai kemarin. Bahkan jika angin tak terlalu cepat membawanya selambat-lambatnya hadiah ulang tahunmu akan sampai padamu hari ini. Hadiah ulang tahunmu memang kutitipkan pada angin. Sebuah cara yang sudah tidak terlalu banyak orang menggunakannya. Bukan apa-apa, aku hanya malas mengirimkan melalui jasa antar barang yang pasti akan meminta identitas dan alamatku, bukan apa-apa, aku hanya tak ingin kau tahu bahwa aku mengirimkan hadiah ulang tahun padamu. Aku juga tak mau menitipkannya pada seorang kurir. Aku takut ia akan membukanya sebelum hadiah itu sampai padamu. Kudengar pernah ada seorang sastrawan yang mengirimkan senja kepada kekasihnya, namun kurir yang mengirimkannya justru membuka amplopnya. Kabarnya terjadi sesuatu yang mengerikan, tapi ada juga kabar bahwa sang kurir menjadi lebih terkenal dari sang pengirim karena menjual kisah tentang amplop yang terbuka itu. Entahlah, aku tak terlalu tahu apa yang terjadi, lagipula tidak ada yang bisa membedakan antara omong kosong kabar burung, dan kenyataan sekarang ini. Aku hanya tak ingin orang lain tahu aku mengirimkan hadiah ulang tahun padamu. Apalagi sampai kekasihmu sekarang tahu, aku akan tak enak hati padamu.
 Gerimis kecil mulai kembali turun. Kuperhatikan pulir-pulir hujan satu persatu, mungkin saja itu adalah air matamu yang kau kirimkan untukkku. Ah, kenapa aku mengharapkan kau menangis karena hadiah ulang tahunmu? Maaf jika itu yang terjadi, tapi tak ada seorang pun tahu arti dari sebuah air mata. Ia bisa saja meleleh dari sebuah keharuan, atau pecah dari sebuah kesedihan, atau mungkin mengembun dari sebuah kebahagian, meretas dari ketakjuban, atau mungkin saja yang lain. Selalu saja ada seribu kemungkinan saat kita melihat sebuah air mata. Hanya saja ada sebuah kepastian, ada sebuah kenangan dalam satu pulir air mata. Gerimis reda, tak ada satupun pulir air matamu. Gerimis yang sangat sebentar, sebuah gerimis yang sederhana, tanpa aksesoris yang berlebihan, hanya sebuah gerimis kecil setelah hujan reda pada sebuah malam. Tak ada yang istimewa.
Angin bertiup perlahan, menerbangkan bau tanah basah, rumput yang masih enggan menggeliat, dan bau akar-akar yang melepas kerinduan. Aku teringat, dan baru tersadar, gerimis ini, atau setidaknya gerimis seperti ini adalah gerimis yang beberapa waktu lalu menemaniku membuat hadiah ulang tahunmu. Ya, hadiah itu kubuat sendiri enam hari sebelum hari ulang tahunmu. Aku sekarang mengingatnya, dini hari itu gerimis seperti ini datang,  aku teringat kau selalu mengatakan sangat suka gerimis, sebuah gerimis yang sederhana, tanpa aksesoris yang berlebihan, hanya sebuah gerimis kecil yang disusul angin yang perlahan bertiup meranumkan bau tanah basah, rumput yang masih enggan menggeliat, dan bau akar-akar yang melepas kerinduan. Kau sangat suka membauianya. Kau pasti akan memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, merentangkan kedua tanganmu seperti akan memeluk sesuatu, sedikit senyum menyungging di bibirmu. Beberapa saat kau tak akan melakukan apapun, hingga kemudian kau perlahan melepaskan nafas, sangat pelan, seakan tidak mau melepaskan udara dalam dadamu. Kau lalu akan tersenyum riang sambil berkata,” Aku suka bau tanah setelah gerimis”   sambil menoleh atau menatap kearahku. pernah suatu ketika aku bersembunya saat kau mulai menutup mata dan menghirup udara dalam-dalam. Kau kebingungan mencariku saat kau membuka mata dan tentu saja dengan senyum riangmu kau berkata, “Aku su..” kata-katamu terputus, aku sudah tak ada ditempatku sebelumnya. Senyummu hilang, kau tampak murung, awalnya kuharapkan kau akan jengkel dan mencubitku dengan manja saat aku mendekatimu. Tapi tidak, kau tak melakukan apa-apa. Kau diam, tak berkata apapun. Ada keceriaan yang lenyap dari wajahmu. Wajah yang tak pernah tampak sayu, mendadak layu.
Langit gelap. Aku masih berdiri di selasar rumah, menunggu matahari yang mungkin sebentar lagi muncul. Aku tak sedang mengenangmu, aku hanya memikirkan apakah hadiah ulang tahunmu dariku sudah sampai padamu? Sebuah hujan yang kusulam sendiri. Kusulam dengan benang yang terbuat dari bulu-bulu kerinduan, bukan dari bulu-bulu domba australia yang orang lain pakai untuk membuat syal, atau mungkin air liur ulat. Aku menyulamnya dengan sangat hati-hati. Aku tak ingin kau tak mengenali hujan yag sedang kusulam. Hujan yang cukup besar, dengan jalan-jalan perumahan, gang-gang yang jalannya tertutup paving blok, pohon-pohon. Kusulam dengan sangat teliti. Bahkan kugunakan benang yang agak usang untuk l-angitnya yang abu-abu, anginnya yang agak kencang, serta tetesnya yang besar-besar dan turun dengan lebat. Kusulam pula air yang sudah menggenang tinggi, selokan-selokan yang meluap, sedikit sampah di tengah jalanan yang berkubang air. Anjing-anjing yang kedinginan di teras-teras rumah. Sayangnya aku tak menemukan benang yang cocok untuk membuat sepeda motor yang dulu kita gunakan untuk berjalan-jalan menerobos hujan. Berkeliling kompleks tanpa helm, menikmati kecerian kanak-kanak yang seringkali terenggut kedewasaan. Ya, kukirimkan untukmu sebuah hujan untuk hadiah ulang tahunmu. Sudah sampaikah disana?
                                                            **
 Seorang perempuan  duduk di pojok kedai kopi yang sudah walau malam belum larut. Secangkir teh yang tinggal setengah nampak sudah dingin ada di mejanya. Ia menatap lalu lalang di jalanan melalui kaca. Ia tersenyum saat semuanya nampak bergegas saat hujan mulai turun. Ia memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam, merentangkan kedua tanganmu seperti akan memeluk sesuatu, kemudian kedua tangannya mengatup. Masih memejamkan mata, ia mendekatkan tangannya pada bibir mungilnya. Setengah berbisik ia mengatakan sesuatu. Kemudia ia melihat  beberapa orang masuk. Berteduh dari hujan pertama di kota mereka sambil ditemani secangkir kopi. Musim hujan akan segera datang. Tak beberapa lama hujan mereda. Ternyata hanya sebuah gerimis yang sebentar. Perempuan itu tersenyum, lamat-lamat ia bergumam, “gerimis yang sederhana”. Ia membuka kedua tangannya, meniupkannya angin diatasnya, seakan-akan menitipkan sesuatu pada angin. Ia menatap ke langit di luar sana. Setetes pulir hujan mulai jatuh dari matanya.   

Yogyakarta, Desember 2012

Minggu, 16 Desember 2012

Sajak Cinta


Kau memintaku menulis sajak cinta sebagai bukti aku mencintaimu.
Berlagak sebagai penyair, aku menyanggupinya

Pagi
Kubongkar gudang kata-kata di kepalaku. Agak berdebu, kupilah-pilah kata yang sudah terlalu usang dan lapuk, dengan kata-kata yang belum terlalu termakan usia.
Kubongkar-bongkar tumpukan kata, kucari yang mungkin cocok kutuliskan untuk sajakku nanti.
Tidak cukup, kubuka kamus-kamus. Dari kamus cetak, kamus berformat PDF, hingga kamus online yang mengajarkan adik-adik kita kemudahan dan kemalasan.

Siang
Kuberjalan ke kebun kenangan di sebelah rumah
Dengan clurit di tangan kurapikan ilalang dan rumput teki yang membuat kebun terlihat semrawut.
Kupanjat beberapa pohon untuk mencari dan memilih kenangan yang sudah ranum, masih harum, dan merekah.
Bukan kenangan yang sudah busuk, ataupun kenangan yang belum matang.
Saat memilih mana yang akan kupetik, aku mencicipinya sedikit agar tak salah mengambil kenangan yang agak asam apalagi pahit.
Ya, kenangan yang paling manislah yang kupetik.

Malam
Kutunggu rahib, pendeta, dan ulama tertidur lelap.
Aku akan mencuri kitab suci mereka.
Mencabik-cabiknya untuk menemukan kisah cinta dan kasih sayang , sesuatu yang tidak pernah mereka pakai dalam khotbah-khotbah keagamaan di negeri ini.
Tentu saja Aku tidak lupa menyebut nama Tuhan saat mulai meretas benang penjilid dan kukuku mulai menancap di lembaran-lembaran awal setiap kitab yang kubuka.
Walau agak kesusahan akhirnya aku menemukan beberapa kisah yang kurasa akan cukup membuat sajakku menjadi sajak cinta yang tak biasa.maklumlah, mungkin cinta dan kasih sayang terlalu lama tertimbun, tertindih amarah dan kebencian yang sering mereka gunakan saat mengutipnya,

Dini Hari
Kata-kata sudah berserakan di atas piring saji, beberapa buah kenangan yang sudah kucuci bersih, bahkan dengan larutan yang membuatnya higienis sudah di dalam keranjang. Kisah-kisah dari beberapa kitab suci bahkan sudah kumasukkan dalam toples tak tembus pandang agar tak ada yang tahu mereka ada disana.
Tapi ternyata tidak mudah menjadi seorang penyair.
Tidak mudah menulis sebuah sajak cinta, apalagi untukmu sayang.
Setiap kata berlarian sesuai keinginannya. Ada yang menari di atas sendok, bermain petak umpet di kotak tisu, menjilati kaki mena, bahkan beberapa darinya asyik menggerogoti buah kenangan di dalam keranjang hingga beberapa buah berlubang di sana-sini. Dan kisah-kisah dalam kitab suci? Mereka mengunci dirinya karena ketakutan.
Takut pada segerombolan kata-kata yang mungkin akan menggigitinya, dan takun pada keriuahan yang ada di luar toples.

Ayam berkokok
Aku teringat Roro Jongrang dan Dayang Sumbi.
Sajakku belum jadi, bahkan satu katapun belum kutulis.
Sambil membayangkan wajah manjamu yang pasti akan merajuk aku teringat seorang penyair pernah berkata :
Karena cinta adalah kau yang tak mungkin kusebut kecuali dengan denyut.

Jogjakarta