Kamis, 08 Maret 2012

Keusangan Teori Pertentangan Kelas

Karl Max, Mungkin nama pemikir sosial yang satu ini sudah sangat familiar di kalangan generasi Muda (Dan yang merasa Muda). Max sering dituding menjadi "Dewa" Kaum Komunis, bapak komunis, hingga pencetus Komunisme. Penulis yang menghabiskan Usia Senjanya di London bersama seorang sahabat bernama F. Eagles ini menelurkan beberapa pemikiran dalam beberapa bukunya. dua contoh yang "melegenda adalah Das Kapital dan Comunist Manifest. Salah satu pemikirannya yang paling terkenal adalah Teori pertentangan kelas.
Teori Pertentangan kelas secara sederhana dapat diartikan sebagai teori yang menginginkan suatu keadaan masyarakat yang tak tersdapat lapisan=lapisan, golongan, dsb. Teori ini dicetuskan Max setelah melihat kenyataan keadaan masyarakat eropa yang bipolar. Masyarakat Eropa pada saat Max hidup dipisahkan menjadi para kapital (pemilik modal) dan buruh, penguasa dengan proletar, kaya dan miskin, serta penggolongan-penggolongan yang didasarkan pada materi. (Bagi Max Agama termasuk materi). Max menginginkan semua kelas dalam masyarakat hilang dan masyarakat melebur menjadi satu, masyarakat tanpa kelas, konsep tersebutlah yang max katakan sebagai masyarakat komunis.
Teori ini pada awalnya dianggap sebagai angin lalu saja. kemudian teori ini dikembangkan di USSR dan menjadikan USSR menjadi salah satu kekuatan komunis di Dunia. Sayangnya pada perkembangannnya, aplikasi Teori ini Justru menciptakan Chaos dan ketidakberaturan kehidupan berbangsa di USSR. Hingga pada awal dekade 90-an Glasnot dan Preriostika menjdadi tandanya USSR dan kekuatan komunis. dan semenjak masa itu, komunisme dianggap sebagai sebuah Utopia masyarakat ideal dan dikalahkan oleh paham Kapitalis.
Keruntuhan komuisme juga banyak diartikan sebagai "kegagalan" pertentangan kelas. para cendikia menganggap bahwa kelas-kelas sosial dan penggolongan yang ada pada masyarakat memang diperlukan untuk menjaga stabilitas dan mobilitas struktur masyarakat. di era kapitalisme seperti sekarang, manusia sangat mudah untuk dimasukkan dan digolongkan pada "kotak-kotak" eksklusitifan sistem sosial. contohnya munculnya fenomena, sosialita, bangsawan, artis, :anak gaul" dan sebagainya. Masyarakat (Indonesia) juga merupakan salah satu "korban" era kapitalisme ini. masyarakat kita sangan mudah (dan cenderung dengan senang hati dan kesadaran penuh) memasukkan diri pada kotak-kotak yang akan mengumpulkan mereka dengan orang yang serupa (memiliki kesamaan hobi, kepemilikan aset, bidang usaha, bahkan perangkat telekomunikasi) yang secara langsung atau tidak membatasi (bahkan menutup) interaksi mereka dengan anggota masyarakat lain yang ada di luar "kotak" tersebut. Hal tersebut menjadi sangat memprihatinkan jika "kotak" tersebut merupakan "kotak" yang dianggap prestisius bagi anggota masyarakat lainnya. dan hal ini dirasa memberikan "sumbangan" signifikan dalam kebobrokan bangsa kita secara keseluruhan.
Teori pertentangfan kelas bolehlah dianggap sebagai sebuah teori usang, sebuah teori yang gagal membangaon Civil Society namun apa yang terjadi di masyarakat modern saat ini dirasa cukup untuk membuka mata para cendikia bahwa kelas sosial dalam suatu masyakat hanya akan mengantarkan masyarakat tersebut pada bibir jurang kehancuran. Untuk memperbaikinya, ada baiknya dilakukan pembacaan ulang pada paham-paham yang dianggap tabu di negri tercinta ini.

Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar