Minggu, 01 Januari 2012

sastra dan sejarah

Sastra adalah sebuah tulisan fiksi yang notabenya sebuah rekaan. Sedangkan sejarah pada hakikatnya adalah sebuah rekam jejak fakta yang ada. Pada keadaan ideal, sebuah fakta sejarah akan selalu berupa kenyataan dan sebuah fakta dalam karya sastra adalah sebuah fakta rekaan.
Sayangnya sering kali sejarah adalah milik para penguasa, para pemenang, para pemilik hegemoni jamannya. Sejarah selalu saja menuliskan peristiwa dengan tendensi mengagungkan penguasa pada zamannya, atau menghujat secara membabi buta. Sangat sulit untuk menemukan sebuah fakta sejarah yang tak tendensius. Salah satu contoh adalah era kelam bangsa indonesia pada medio 65 hingga 70. Saat itu dan pada tahun-tahun berikutnya saat Sang Jendral menjadi penguasa, penghujatan pada anak jadah demokrasi terpimpin, Partai Komunis Indonesia menjadi-jadi. Hampir seluruh buku sejarah mencatat bahwa pada tanggal 30 September PKI membunuh para jendral untuk mengambil alih kekuasaan, lalu muncul Sang Jendral sebagai pahlawan kesiangan yang mengatasi keadaan.
Kejadian 30 September sebenarnya jauh lebih mengerikan dari sekedar pembunuhan para jendral. Sang pahlawan kesiangan membabi buta membabat orang-orang PKI dan tetuduh PKI. pembunuhan merajalela. Data paling konservatif menyebutkan 2 juta rakyat indonesia menjadi korban ''pembersihan'' tersebut. dan sejarah selalu saja hanya menuliskan, Sang Jendra menjaga ketertiban.
Sastra, mampu menjabarkan era itu dengan caranya sendiri. Beberapa karya mengangkat kejadian-kejadian diseputar kudeta konstitusional tersebut. Putu Fajar Arcana dengan lihai dapat menceritakan kepala-kepala yang bferserakan di Bali pada masa itu. Marten Aleida mampu memaparkan kepedihan menjadi tertuduh PKI, bahkan di dalam Ronggeng Dukuh Paruk, digambarkan dengan jelas bagaimana penderitaan seorang lengger yang hanya menari demi melestarikan nama baik desanya yang disebabkan dituduh PKI.
Sastra selalu saja bisa memberikan sebuah refleksi zaman dan para pelakunya. Walau terkadang terkesan fiksi dan subjektif, sastra seringkali lebih mampu menampilkan wajah suatu era jauh lebih objektif dan gamblang dari buku-buku sejarah. Bahkan ada sebuah petikan : jika kau ingin kebohongan, bacalah sejarah, jika kau ingin kebenaran, bacalah sastra.

Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar