Menari-nari kita terus menari meski hujan rintik turun
Sepenggal lirik dari sebuah lagu dali Maliq & d'Essensials tadi seakan membuat kita terseret pada imaji visual yang manis, ya, manis, sangat manis. Siapakah yang masa kecilnya tidak dilewatkan pada ritual menari, loncat kesana kemari, tertawa riang, disela kegetiran hidup yang belum ia pahami, sosok kita di masa kanak akan terus menari, menari dengan riang.
Menari, dengan atau tanpa alunan yang terdengar sebenarnya adalah pergerakan tubuh kita yang mengalun, entah cepat, lambat, riang, khidmat, dsb. Mengalun mengikuti alunan jiwa kita, feel , kata orang-orang barat, mengikuti suara yang tak terdengar, suara hati, suara alam, suara tuhan. Kadangkala kita terlalu naiif untuk mengikutinya, mengikuti nyanyian jiwa, menarikan tarian-tarian kita. Jarang seseorang menyadari setiap gerakan yang kita buat hakikatnya adalah tarian yang Tuhan ajarkan pada kita saat kita belum mewujud manusia. Kita mengepal-kepalkan tangan saat membara, kita memukul-mukul saat amarah memuncak, sambil berteriak kita meremas kepala kita saat tertekan, dan sambil tersedu kita menunduk lemas saat kita tak tahu lagi apa yang seharusnya kita lakukan. Semua itu adalah sebuah tarian, sebuah gerakan yang mengalun, diiringi lagu yang hati kita sedang lakukan.
Entah, Namun semakin bertambahnya usia, manusia cenderung semakin bebal mendengarkan lagu yang hatinya nyanyikan. Mungkin dunia mengajarinya bagaimana menolak kehendak tubuhnya, orang lain menyebut itu sebagai pengendalian diri, saya menyebut sebagai ketidak jujuran pada diri sendiri. Ingatkah saat kita kanak, bagaimana jujurnya kita, betapa riangnya kita menarikan seluruh lagu yang terdengar, betapa jujurnya kita ? betapa indahnya tarian kita. Dan yang paling indah : Betapa riangnya kita.
Bukan mengajak kembali pada romantika kanak yang sudah terlalu usang. Sekedar mengatakan, bahwa menari, terus menari, adalah bentuk kejujuran yang paling mendasar pada diri kita. Ingatkah tawa kita saat kanak, berlompatan, berlari-larian , berkejar-kejaran di saat hujan? Menarilah, tawa itu masih bisa kita punya.
Menari-nari kita terus menari meski hujan rintik turun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar